Dadang sendiri memilih berlari ke arah tribun VIP untuk menyelamatka diri, tapi ia malah dikagetkan dengan banyaknya rekan Aremania sudah tak bernyawa bahkan salah satunya adalah teman baiknya sendiri.
Suporter lainnya yang memberikan kesaksian mengatakan bahwa kepanikan terjadi bukan hanya ada di pihak suporter yang mencoba turun. Tindakan penanganan yang tidak terukur menyebabkan banyak korban jiwa.
Disebutkan juga bahwa selain gas air mata yang ditembakkan petugas keamanan, pihak panitia pelaksana juga mematikan lampu stadion yang membuat kepanikan semakin menjadi-jadi.
Pihak panitia pelaksana juga sudah menyalahi aturan, dimana mereka mencetak 42.000 tiket sedangkan kapasitas Stadion Kanjuruhan hanya 38.000 penonton.
Kini kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Harus ada yang lantang bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
Tidak hanya itu sistem sepak bola Indonesia harus segera dibenahi agar kejadian serupa tidak terulang lagi, tak ada hiburan yang seharga nyawa termasuk sepak bola.
Artikel Terkait
Polisi Berhasil Tangkap Komplotan Copet yang Sering Resahkan Suporter di Kanjuruhan
Bertambah Jadi 153 Orang Tewas, Ini Rincian Lokasi Meninggalnya Korban Tragedi Kanjuruhan
Banyak Korban Berjatuhan di Stadion Kanjuruhan, Dilaga Arema vs Persebaya Ini Penyebabnya
Efek Samping Mematikan Gas Air Mata, Diduga Penyebab Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang
Insiden Kanjuruhan: Total 125 Jiwa Bukan 174 Jiwa, Simak Penjelasannya!