“Saya mencoba untuk mencari aparat keamanan agar bisa membantu membuka pintu. Saat saya minta tolong saya malah dibentak dan nyaris dipukul oleh aparat berseragam tersebut yang untungnya ditangkis sama teman saya,” sesal Eko terhadap tindakan Aparat yang ditemui.
Ia tak putus asa, terus berusaha menyisir area luar stadion hingga akhirnya menemukan aparat pengamanan stadion lainnya yang mau membantu.
Saat Eko berhasil menemukan bantuan, semuanya sudah terlambat. Banyak rekan Aremania yang sudah tergeletak tak bernyawa di dalam stadion.
Eko seketika terdiam tak melanjutkan ceritanya, tiba-tiba ia lemas tak kuat mengingat kengerian yang terjadi. Tubuhnya ambruk ke arah Yuli Sumpil yang berada disampingnya.
“Gak kuat aku mas,” ujar Eko kepada Yuli sambil tak kuasa menahan tangisnya.
“Gapapa ceritakan saja, yang kuat sam,” Yuli berusaha menenangkan Eko.
Setelahnya Eko menyebutkan bahwa Pintu 13 layaknya kuburan masal bagi Aremania, ia tak kuasa lagi dan kembali menangis dalam konferensi per Federasi Komisi.
Tak Ada Niat Menyerang Pemain Persebaya
Artikel Terkait
Polisi Berhasil Tangkap Komplotan Copet yang Sering Resahkan Suporter di Kanjuruhan
Bertambah Jadi 153 Orang Tewas, Ini Rincian Lokasi Meninggalnya Korban Tragedi Kanjuruhan
Banyak Korban Berjatuhan di Stadion Kanjuruhan, Dilaga Arema vs Persebaya Ini Penyebabnya
Efek Samping Mematikan Gas Air Mata, Diduga Penyebab Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang
Insiden Kanjuruhan: Total 125 Jiwa Bukan 174 Jiwa, Simak Penjelasannya!