Storyjatim.com - Pembakaran serta penyaderaan terhadap pesawat dan pilot maskapai Susi Air yang terjadi pada Selasa, (7/2/2023) menarik prihatin Meutya Hafid.
Ketua Komisi I DPR RI itu meminta TNI segera berkomunikasi dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat -Organisasi Papua Merdeka atay TPNPB-OPM atas penyaderaan yang dilakukan organisasi tersebut.
"Saya minta pihak-pihak untuk berkomunikasi, terutama juga dari TNI bagaimana agar pilot ini kalau betul disandera agar bisa segera dibebaskan," kata Meutya di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (7/2).
Baca Juga: Sempat dikabarkan Hilang Pasca Gempa di Turki, Eks Bintang Premier League Akhirnya ditemukan.
Meutya mengatakan pihak DPR telah menyoroti konflik di Papua yang terjadi baru-baru ini. Oleh karena itu, Ketua komisi I DPR RI itu mendorong agar diadakannya tindakan lebih lanjut oleh Perpers Nomor 7 tahun 2021 mengenai pelibatan TNI dalam memberantas terorisme.
Ia berharap dengan adanya Perpers, TNI bisa melakukan penanganan konflik lebih baik di Papua. Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa dalam menangani konflik yang terjadi di Papua perlu adanya penanganan dan strategi khusus.
"Kalau ada kekerasan harus humanis. Kalau ada kekerasan tentu itu tegas tapi dalam kerangka penyelesaian akhir tentu harus ada dialog-dialog dengan kelompok ini. Jadi humanisnya tetap ada," ungkapnya Meutya.
Informasi sebelumnya yaitu bahwa selain pilot, penumpang pesawat Susi Air juga turut disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKN) atau OPM pimpinan Egianus Kogoya, ini di sampaikan oleh Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen M. Saleh Mustafa.
Baca Juga: Semalam Tak Pulang, Pria di Banyuwangi Potong Kemaluan Sendiri, Ini Penyebabnya
Akan tetapi, ia tak memberi rincian terkait jumlah penumpang yang di sandera itu. Jika merujuk dari data Susi Air, pesawat itu membawa lima orang penumpang.