لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
“Aku akan menghiasi kemaksiatan sehingga mereka melakukan kemaksiatan tersebut.” (QS. Al-Hijr[15]: 39)
Demikian juga faktor lingkungan seperti yang tadi sudah saya sebutkan dalam hadits: “Seorang anak lahir diatas fitrah, tapi kedua orang tuanya mempengaruhi sehingga bisa menjadikan sang anak jadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” Berarti fitrah bisa berubah dengan faktor lingkungan atau faktor setan. Dan inilah yang terjadi sehingga bagaimana fitrah-fitrah yang Allah tanamkan pada diri manusia berubah.
Lihatlah bagaimana kaum Luth ‘Alaihis Salam yang Allah utus kepada kaum Al-Mu’tafikat, negeri-negeri yang mempraktekkan homoseksual yang belum ada umat yang melakukan homoseksual seperti mereka. Mereka yang pertama kali berinovasi dalam maksiat sehingga melakukan homoseksual. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠﴾ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ ﴿٨١﴾
“Dan ketika Luth berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kalian melakukan perbuatan keji (homoseksual) yang tidak pernah seorangpun dari kaum-kaum sebelum kalian yang melakukannya? Kalian mendatangi lelaki dan kalian meninggalkan wanita? Sungguh kalian adalah kaum yang terlalu berlebih-lebihan.’” (QS. ‘Abasa[80]: 80-81)
Bagaimana bisa terjadi? Jawabnya setan yang merubah itu semua.
Namanya maksiat, pertama kecil. Apalagi perubahan fitrah. Merubah fitrah tidak mudah, tapi setan sabar dalam merubah fitrah manusia. Dari perkara kecil, kemudian disirami dengan hawa nafsu, kemudian dibumbui dengan pendapat-pendapat, akhirnya maksiat tersebut menjadi biasa dan bahkan kalau ada yang mengingkari maksiat tersebut menjadi tercela. Dan itu yang terjadi pada kaum Luth. Mereka melakukan maksiat yang luar biasa yang melanggar fitrah. Sampai begitu hebatnya mereka bermaksiat, mereka melakukan praktik homoseksual di depan umum. Kata Nabi Luth ‘Alaihis Salam: