Mulai dari situ, batin Lilik pun terkoyak. Dia memberontak dan berupaya kabur dari cengkraman bengis para juragan.
Baca Juga: Moment Haru Usai Festival Gandrung Sewu, Bupati Banyuwangi Berikan Semangat Ke 1.248 Penari
Lilik berhasil lolos dan pulang ke rumah keluarganya yang berada di Gumirih. Tahu, mesin penghasil uangnya kabur, B lantas mencoba menjemput paksa.
Kala itu, Lilik disembunyikan oleh pamannya. Sempat terjadi cekcok antara B dengan Paman Lilik. Hingga narasi dan ancaman saling bunuh pun terlontar. Beruntung kala itu amarah keduanya berhasil diredam.
Merasa sudah terlepas dari cengkeraman para Juragan, Lilik pun masih meneruskan dan menerima undangan mentas. Dia sudah mulai mengatur sendiri jadwal manggungnya.
"Ada mungkin waktu dua puluhan undangan yang masih saya teruskan," ujarnya.
Namun lagi-lagi kenyataan pahit masih harus diterima Lilik. Diam-diam Lilik masih dipantau oleh B dan M. Uang-uang hasil undangan semuanya lagi-lagi diserobot.
Disitulah kemudian Lilik merasa nasibnya sudah di ujung tanduk. Semenjak itu, ia memutuskan berhenti dan enggan lagi menggandrung hingga saat ini.
"Kadang saya curahkan semua isi hati pada saat nggending (membawakan gending). Kalau pas gendingnya sedih saya pasti nangis, merasakan penderitaan," tegasnya.
Artikel Terkait
Latihan Tari Gandrung Polwan Polresta Banyuwangi Persiapkan HUT Ke-74 di Polda Jatim
Grup Lawak PKH Minta Makam Mbah Marsan Untuk Dijadikan Situs Sejarah Gandrung Di Singojuruh Banyuwangi
Moment Haru Usai Festival Gandrung Sewu, Bupati Banyuwangi Berikan Semangat Ke 1.248 Penari
Di balik suksesnya Gandrung Sewu Di Banyuwangi, Bagaimana Nasib Gandrung Terob?