Banyuwangi Storyjatim.com - Tergores hati luka lama masih melekat pada Aliyah warga asal Dusun Gayam Lor, Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Bagaimana tidak Perempuan yang kini berumur 63 tahun ini adalah salah satu dari sekian banyak tokoh legenda Gandrung di Tanah Blambangan. Namanya pun cukup tenar di era tahun 1970an. Gandrung Lilik nama panggung yang melekat menjadi identitasnya.
Gandrung Lilik memiliki cerita tragis saat menjadi penari Gandrung di masanya, ketenaran nama tak menjamin kesejahteraannya, lantaran perjalanan karirnya hanya menjadi budak si Tuan nya.
Bagi sebagian orang, terkenal menjadi publik figur adalah idamannya, tak sedikit berfikiran bahwa menjadi publik figur mempunyai banyak harta dari hasil manggung kesana kemari, belum lagi ditambah saweran dari penonton.
Kepadatan Jam terbang pun waktu itu tak diragukan lagi, uang saweran yang diperoleh pun bisa jadi melebihi hasil dari undangan tuan rumah yang mempunyai hajat.
Namun apa yang dirasakan Gandrung Lilik saat berada di puncak ketenaran, selama menjalani profesi penyanyi sekaligus penari Gandrung Lilik bahkan mengaku sama sekali tidak menikmati buah manis dari ketenaran nya.
Baca Juga: Di balik suksesnya Gandrung Sewu Di Banyuwangi, Bagaimana Nasib Gandrung Terob?
Kala masih muda sekitar belasan tahun dan masih energik dalam menggandrung, Lilik hanya seperti sapi perah. Dia tak ubahnya budak, yang terus dimanfaatkan hanya untuk memperkaya tuannya.
Artikel Terkait
Latihan Tari Gandrung Polwan Polresta Banyuwangi Persiapkan HUT Ke-74 di Polda Jatim
Grup Lawak PKH Minta Makam Mbah Marsan Untuk Dijadikan Situs Sejarah Gandrung Di Singojuruh Banyuwangi
Moment Haru Usai Festival Gandrung Sewu, Bupati Banyuwangi Berikan Semangat Ke 1.248 Penari
Di balik suksesnya Gandrung Sewu Di Banyuwangi, Bagaimana Nasib Gandrung Terob?