Proses yang dijalani Lilik terbilang cepat. Kurang lebih 1 bulan latihan, Lilik sudah menjalani tradisi peras dan pupuh. Sebuah tradisi yang wajib dilalui ketika siswa hendak beranjak menjadi Gandrung Profesional.
"Emak (panggilan untuk M) kalau ngajari keras. Kalau salah saya dipukuli. Nama asli saya kan Aliyah itu diganti Lilik, katanya biar cepat tenar," bebernya.
Dirasa sudah profesional, Lilik mulai dipromosikan. Lilik kemudian memulai debutnya dengan banyak tawaran undangan.
Ia langsung mentas dalam ajang Gandrung Terob, seni pertunjukan tradisi berupa tari dan vokal yang nyaris digelar semalam suntuk.
Namun semua undangan termasuk bayaran, diatur oleh B dan M. Lilik sama sekali tidak boleh tahu.
Bahkan uang hasil saweran saat manggung pun turut dirampas oleh para juragan.
"Setiap manggung diikuti dan ditunggu. Pas istirahat uang saweran itu direbut semua. Kalau saya ngeluh capek langsung disiksa, dipukuli," kata Lilik.
Artikel Terkait
Latihan Tari Gandrung Polwan Polresta Banyuwangi Persiapkan HUT Ke-74 di Polda Jatim
Grup Lawak PKH Minta Makam Mbah Marsan Untuk Dijadikan Situs Sejarah Gandrung Di Singojuruh Banyuwangi
Moment Haru Usai Festival Gandrung Sewu, Bupati Banyuwangi Berikan Semangat Ke 1.248 Penari
Di balik suksesnya Gandrung Sewu Di Banyuwangi, Bagaimana Nasib Gandrung Terob?