Proses yang dijalani Lilik terbilang cepat. Kurang lebih 1 bulan latihan, Lilik sudah menjalani tradisi peras dan pupuh. Sebuah tradisi yang wajib dilalui ketika siswa hendak beranjak menjadi Gandrung Profesional.
"Emak (panggilan untuk M) kalau ngajari keras. Kalau salah saya dipukuli. Nama asli saya kan Aliyah itu diganti Lilik, katanya biar cepat tenar," bebernya.
Dirasa sudah profesional, Lilik mulai dipromosikan. Lilik kemudian memulai debutnya dengan banyak tawaran undangan.
Ia langsung mentas dalam ajang Gandrung Terob, seni pertunjukan tradisi berupa tari dan vokal yang nyaris digelar semalam suntuk.
Namun semua undangan termasuk bayaran, diatur oleh B dan M. Lilik sama sekali tidak boleh tahu.
Bahkan uang hasil saweran saat manggung pun turut dirampas oleh para juragan.
"Setiap manggung diikuti dan ditunggu. Pas istirahat uang saweran itu direbut semua. Kalau saya ngeluh capek langsung disiksa, dipukuli," kata Lilik.