Dampak Domino Kenaikan Harga BBM, Masyarakat Semakin Miskin!

photo author
Ernik Qurrotul Aini, Story Jatim
- Senin, 5 September 2022 | 23:28 WIB
Dampak Domino Kenaikan Harga BBM, Masyarakat Semakin Miskin! (Screenshot Youtube Narasi )
Dampak Domino Kenaikan Harga BBM, Masyarakat Semakin Miskin! (Screenshot Youtube Narasi )
STORYJATIM.COM- Kenaikan harga BBM telah terjadi sejak tanggal 3 September 2022 lalu.
 
Banyak kritik akan kenaikan harga BBM tersebut sehingga menimbulkan banyak keresahan di masyarakat.
 
Naiknya harga BBM tersebut memberikan dampak seperti domino yang terjadi diberbagai sektor.
 
 
Beberapa sektor yang akan berdampak padaa kenaikan BBM tersebut dapat dilihat dari kutipan storyjatim.com yang diambil dari Youtube Narasi.
 
Harga BBM sudah naik dengan menuai banyak kritik, efek dari kenaikan tersebut juga sudah mulai terlihat hingga penting untuk di antisipasi.
 
Harga BBM yang naik mempunyai dampak lanjutan pada sektor-sektor lainnya seperti inflasi.
 
Peneliti Institut for Development of Economics and Finance atau INDEF Nailul Huda menyebut Inflasi dapat menyentuh angka 8 hingga 8,5 %.
 
Daya beli masyarakat bisa tertekan, ditambah dengan angka kemiskinan yang hampir dipastikan akan ikut naik.
 
"Inflasi yang terjadi akibat kenaikan harga BBM pertalite dapat mencapai angka 8 sampai 8,5 persen.
 
Angka tersebut relatif tinggi sekali jika dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir, dimana angka inflasi Indonesia berada di angka sekitar 2 sampai 3 persen," terang Nailul Huda.
 
 
Nantinya terdapat lonjakan inflasi yang cukup signifikan yang berdampak pada penekanan daya beli masyarakat rendah.
 
Hal ini disebabkan karena harga naik ditambah tidak ada penambahan penghasilan secara signifikan akan menyebabkan daya beli masyarakat semakin menurun.
 
Ini semua akan berakibat kepada konsumsi rumah tangga menjadi relatif lambat, sehingga mempengaruhi perlambatan dari pertumbuhan ekonomi.
 
Dampak lain bisa dilihat dari peningkatan sisi kemiskinan yang akan naik.
 
Naiknya harga BBM diprediksi dapat mempengaruhi tarif angkutan umum.
 
Organisasi angkutan darat atau Organda DKI Jakarta memprediksi tarif transportasi akan naik sekitar 12,5 persen. 
 
"Estimasi dari kenaikan harga BBM akan membuat kenaikan tarif angkutan orang dan barang sekitar 12,5 %," kata Shafruhan Sinungan selaku ketua dewan pimpinan daerah Organda DKI Jakarta.
 
Sehingga masyarakat ibukota yang biasanya membayar biaya angkot sebesar Rp5.000 akan naik menjadi Rp 5500 hingga Rp 5700.
 
Pihak Organda Pusat sendiri masih menunggu aba-aba dari pemerintah terkait penyesuaian tarif angkutan. 
 
Mereka kini meminta pemerintah untuk segera memberikan pedoman penyesuaian tarif, untuk berbagai mode angkutan jalan kelas ekonomi sesuai tingkatan.
 
Saat ini tarif angkutan dibeberapa daerah sudah mulai naik, diantaranya angkot jurusan Parung-Lebak Bulus yang naik Rp 2000 dari harga awal Rp 8000 menjadi Rp 10.000.
 
Kenaikan tersebut merupakan inisiatif sopir dikarenakan Organda belum menginstruksikan perubahan harga.  
 
Kenaikan juga terjadi pada angkutan bus Cicaheum Bandung yang terjadi pada angkutan bus antar kota, antar Provinsi atau AKAP yang naik rata-rata sebesar 20%.
 
Tarif angkutan taksi juga diprediksi akan naik, dimana hitungannya berdasarkan kilometer yang ditempuh.
 
Kenaikan tarif juga diperkirakan berlaku pada bus antarkota antarprovinsi reguler.
 
Demikian pula dengan harga Ojol. Asosiasi Ojek Online atau Ado turut mengeluh tarif ojol masih belum naik, meskipun harga BBM telah naik. 
 
Hal ini membuat para driver menjadi rugi, karenanya mereka menuntut tarif ojol turut dinaikkan. 
 
Tarif ojol sendiri sempat diwacanakan naik sejak beberapa waktu lalu. Namun kenaikan ini sudah ditunda sebanyak dua kali.
 
Jadi kemungkinan tarif ojol juga akan segera dinaikkan.
 
Kenaikan diprediksi juga akan terjadi terhadap harga pangan menurut lembaga konsumen Indonesia.
 
Untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah diminta untuk memastikan harga komoditas bisa stabil.
 
Hal tersebut juga akan berdampak pada sektor KPR. Bank Indonesia juga menyebutkan akan kemungkinan menaikkan suku bunga acuan. 
 
Ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan inflasi. Perbankan juga kemungkinan akan menaikkan suku bunga deposito dan suku bunga kredit termasuk bunga KPR. Sehingga cicilan KPR juga dapat menjadi naik.
 
Melihat situasi tersebut peneliti INDEF menyebutkan seharusnya masih ada opsi kebijakan lain yang bisa diambil pemerintah selain menaikkan harga BBM.***
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Rekomendasi

Terkini

Presiden Prabowo Evaluasi Seluruh Direksi BUMN

Selasa, 29 April 2025 | 18:46 WIB

Sah, Menhan Lantik Deddy Corbuzier Sebagai Stafsus

Selasa, 11 Februari 2025 | 19:06 WIB

Terpopuler

X