Berdasarkan data tersebut Indonesia jelas menempati rasio tertinggi kedua setelah Tiongkok dengan harga BBM per liter sebesar 0,33 persen UMR.
Jika diasumsikan rata-rata konsumsi BBM masyarakat per hari adalah 2 liter, maka sebesar 19,8 persen gaji mereka terpotong untuk membeli BBM selama satu bulan.
Wajar bila pernyataan Presiden Jokowi tidak tepat dan masyarakat Indonesia menganggap harga BBM saat ini terlalu mahal.
Apalagi disetiap wilayah memiliki UMR yang berbeda dan masih banyak pekerja di Indonesia yang upahnya di bawah UMR.
Penulis : Bukhori Muslim / stroyjatim.com