Terutama sekali Tjokroaminoto, termasuklah salah seorang guru saya yang amat saya hormati, kepribadiannya menarik saya dan islamismenya menarik saya pula oleh karena tidak sempit.” (Solichin Salam, Soekarno Putra Sang Fajar, Jakarta: Gunung Agung, 1966, hlm. 37).
Baca Juga: Terkuak, Darimana Sumber Dana Pondok Pesantren Al Zaytun Yang menjadi Terbesar di Asia Ini
Tidak berhenti di situ, setelah menjadi Presiden RI Pertama, Bung Karno dengan konsisten, tidak meninggalkan dimensi Ketuhanan dalam dirinya, beberapa bukti diantaranya adalah pada pidato penutupan Muktamar Muhammadiyah tahun 1962, di Jakarta, Bung Karno mengatakan, “Jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa panji Muhammadiyah atas kain kafan saya”.
(Cindy Adams, op, cit, hlm. 459).
Berdasarkan fakta-fakta sejarah perkembangan dan pemikiran Bung Karno kepada Islam dan Dunia Islam tersebut, maka pernyataan yang mengatakan Bung Karno seorang sekuler apalagi komunis, adalah pendapat atau tuduhan yang ahistoris dan tidak sesuai dengan fakta jati diri Bung Karno yang sebenarnya.
Dari sini bisa dilihat dengan seksama, bahwa pernyataan yang disampaikan Panji Gumilang sama sekali tidak mencerminkan sosok yang dianggap panutannya yakni Bung Karno. Justru sangat terlihat ahistoris dan kontradiktif ditambah dengan pernyataan bahwa dia komunis, sedang Bung Karno sendiri adalah pemeluk Islam yang Religius.