“Bagi yang sudah merasakan manfaatnya, mereka akan lebih memilih maggot sebagai pakan ternak dari pada pakan konsentrat, selain harganya murah hasilnya maksimal,” ujar Sundriyanto.
“Pupuk cair organik dan pupuk kompos yang kami hasilkan dari budidaya maggot, semakin hari juga makin banyak peminat. Bahkan banyak yang pesan jauh-jauh hari,” imbuhnya.
Dikisahkan, budidaya yang dilakukan PEGA ini berawal saat mereka menemukan larva lalat di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Pesanggaran. Kala itu Sundariyanto dan kelompoknya belum bisa membedakan antara larva lalat hijau dan lalat BSF. Ilmu tersebut baru mereka dapat setelah mendapatkan pelatihan dari Comunity Development atau External Affairs PT BSI.
Bekal pengetahuan tersebut selanjutkan digunakan untuk memulai budidaya maggot sampai sekarang. Berkat kesungguhan, kini PEGA sudah mampu menembus pasar maggot hingga keluar Jawa, salah satunya Kalimantan.
Makin membanggakan, ilmu dan pengalaman mereka juga banyak dibutuhkan masyarakat. Bekerjasama dengan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan Kerja dan Industri (FKLPKI) dan Balai Latihan Vokasi dan Produktivitas (BLVP) Banyuwangi, Sundariyanto Cs banyak diundang sebagai pembicara dalam kegiatan pelatihan.
“Saat ini kami juga melakukan pendampingan budidaya maggot di Desa Licin dan Kebondalem. Rencananya akan kita kembangkan di 14 desa lain, agar bisa membantu mengatasi masalah sampah sekaligus mampu menjadi sumber penghasilan baru,” bebernya. (*)