"Kami berusaha meyakinkan warga. Pengolahan sampah di sini beda dengan di tempat pembuangan sampah. Bau berasal dari sampah organik, dan ini kami mengolahnya," kata Bahtiar.
PT BSI dan PEGA sigap merespons protes warga yang mayoritas belum teredukasi soal pengolahan maggot.
"Kami ada treatment khusus ketika ada bau. Bau tidak sampai berhari-hari seperti kalau sampah menumpuk di jalan," kata Bahtiar.
Kerja keras Sundarianto dan kawan-kawan rupanya menarik perhatian luar negeri. Pemerintah Norwegia dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki program Clean Ocean Through Clean Communities (CLOCC). Sundarianto menduga InSWA memperoleh informasi tentang kiprah PEGA dari media sosial. Ia kemudian diundang untuk menghadiri pertemuan di pusat kota Banyuwangi.
Februari 2023, mereka menandatangani kontrak perjanjian kerja sama dengan Indonesia Solid Waste Association (INsWA) dan CLOCC. PEGA diangkat menjadi konsultan lokal untuk mendampingi pengolahan sampah di 14 desa dan satu kelurahan di Banyuwangi hingga Februari 2024, antara lain Kebondalem, Tamansari, Genteng Kulon, Genteng Wetan, Glagah, dan Setail.
Baca Juga: Begini Tata Cara Minum Kopi Menurut Riwayat Ulama Kharismatik Kalimantan Selatan, Abah Guru Sekumpul
Belakangan, PEGA juga mendapat tawaran untuk melatih pengolahan sampah di Australia pada Mei 2023. Semula bimbingan dilakukan via media sosial. Namun warga Australia meminta perwakilan PEGA datang dan membimbing langsung.
Sukses pengolahan sampah oleh PEGA ini membuat PT BSI ingin mengembangkan pengolahan sampah ini lebih luas. Bahtiar mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi pelatihan dengan Pemerintah Desa Pesanggaran, pelatihan dengan PKK, badan usaha milik desa, dan pemuda, pada November 2023.
"Teman-teman kami dampingi agar berkembang sebesar ini. Jadi benar-benar kontinu berproduksi, tak sampai putus, karena ini kaitan dengan sampah. Kadang kalau berhubungan dengan sampah, komitmen harus kuat dari kelompok. Kalau komitmen bagus dan produksi bagus, kita bikin pengembangan bekerja sama dengan desa. Desa menyediakan lahan, kami memfasilitasi tempat kandang maggot," kata Bahtiar.
PT BSI berniat mengembangkan pengolahan sampah organik ini di Pesanggaran.
"Berdasarkan evaluasi, sampah juga bagus, karena di pasar, sampah banyak, di warung makan, sampah banyak," kata Bahtiar.
Direktur PT BSI Riyadi Effendi menegaskan kembali komitmen untuk memastikan kehadiran perusahaan dan kegiatannya bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan seluruh pemangku kepentingan.
"Ini wujud Pasal 33 UU 45 semua kegiatan pertambangan untuk kemaslahatan dan kepentingan masyarakat," katanya.
Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT BSI berhasil mewujudkan banyak hal.
"Kami mengembangkan binaan PT BSI yaitu peternakan maggot untuk pakan ternak berkualitas tinggi, memanfaatkan limbah organik yang ada di PT BSI," kata Riyadi.
Artikel Terkait
Dapat Bisikan Gaib, Ketua APPM : Jika Masih Ingin Jadi Penguasa Jangan Duduk di Bawah Pohon Beringin
PT BSI Ajak Petani Beralih Ke Pupuk Organik, Ditengah Harga Pupuk Kimia Semakin Meroket
PT BSI Asah Kemampuan Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dengan Latihan Bersama, Siap Ikuti Ajang Indonesian Fire and Rescue Challenge
Begini Cara Sikat Gigi Saat Puasa Agar Tidak Batal, Bolehkah Menggunakan Odol? berikut Penjelasan Para Ulama
Harga Kian Melejit, Cabe Jamu Diprediksi Menjadi Primadona di Kalangan Petani Banyuwangi
Pemerintah Akan Berikan Hak Cuti Ayah Bagi ASN Pria Yang Istrinya Melahirkan, Men PANRB Akan Atur Dalam PP