Lalat Hitam Dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit PT BSI Banyuwangi

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Senin, 18 Maret 2024 | 14:27 WIB
Lalat Hitam dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit
Lalat Hitam dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit

Setiap pekan, Sundarianto dan kawan-kawan mengolah kurang lebih tiga ton sampah organik. Mereka rata-rata memproduksi satu kuintal maggot fresh per minggu.

"Kalau kebanyakan sampah limbah dapur, hasilnya pupuk padat," kata Sundarianto.

Ada lima produk yang bisa diperoleh dari pengolahan sampah organik ini, yakni maggot fresh untuk pakan ikan dan unggas, maggot kering untuk pakan hewan hias, pupuk padat untuk tanaman, pupuk cair untuk dekomposer dan mengurangi amoniak lingkungan, dan insektisida organik untuk mengusir hama tanaman. Semuanya berbahan baku sampah yang berasal dari PT BSI dan warga sekitar.

Saat ini pasar yang disasar baru lokal Siliragung dan sekitarnya. Mereka belum berminat untuk melebarkan sayap ke luar wilayah.

"Alhamdulillah, kami sampai kekurangan produksi persediaan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan sendiri," kata Sundarianto. Dari sini PEGA Indonesia bisa menghidupi kelompok secara mandiri.

PEGA sempat kesulitan bahan baku pada medio 2018-2020. Masalah bahan baku mulai teratasi setelah Sundarianto lebih massif mengambil sampah rumah tangga. Mereka menukar tempat sampah warga yang berisi sampah organik setiap kali mengepulnya, sehingga rumah warga senantiasa bersih.

"Teman-teman belum berani ambil sampah ke perumahan, produksi pun minim. Kami mengadakan pertemuan, mencoba mencari solusi. Bagaimana kalau kita jemput bola datang ke perumahan, menawarkan jasa pengangkutan sampah dan mendatangi warung-warung untuk menawarkan pemungutan sampah," kata Bahtiar.

Saat ini ada seratus keluarga yang menyalurkan sampah kepada PEGA, dari semula hanya 15 keluarga. Selain itu PEGA juga mengambil limbah pertanian berupa buah semangka dan buah naga yang rusak saat dipanen. Namun mereka masih belum maksimal dalam mengolah sampah.

Rumah pengolahan PEGA yang difasilitasi BSI bisa mengolah dua ton sampah per hari. Namun mereka baru mendapatkan tiga ton sampah per pekan.

"Kami akhirnya ,mengurangi produksi dan lebih banyak memproduksi telur daripada maggot fresh. Jadi kalau sudah dewasa, maggot tidak dikasih makan, lalu akan menjadi lalat dan menghasilkan telur. Telurnya untuk siklus lagi dan kami jual. Kemarin kami menyuplai per hari 1 ons untuk membantu budidaya maggot dalam skala bisnis. Kami jual Rp 2,.500 per gram," kata Sundarianto.

Kendati bermanfaat untuk lingkungan, pusat pengolahan sampah organik ini sempat memicu protes warga sekitar pada 2020. Apalagi kalau bukan karena bau. Sundarianto ingat benar bagaimana puluhan warga kampung sebelah mendatanginya.

"Kami disuruh pindah dari tempat ini," katanya.

Sundarianto pun berusaha meyakinkan warga bahwa akan berupaya keras untuk meminimalisasi bau yang muncul. Ia memperkenalkan kepada warga soal pengolahan sampah yang ramah lingkungan.

"Kalau sampai rumah masih bau, monggo datang lagi. Alhamdulillah, sampai rumah, warga tidak komplain lagi karena bau sudah teratasi," katanya.

Demo tidak sekali terjadi. Pertengahan 2021, warga juga berunjuk rasa. Namun semua bisa diselesaikan dengan dialog.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X