Lalat Hitam Dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit PT BSI Banyuwangi

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Senin, 18 Maret 2024 | 14:27 WIB
Lalat Hitam dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit
Lalat Hitam dan Para Penghadang Logistik Tambang Emas Tujuh Bukit

Banyuwangi, Storyjatim.com - Semua berawal dari seorang pemuda bernama Sundarianto. Warga Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ini senang memancing dan menjala ikan di sungai bersama sejumlah teman. Hasilnya mengecewakan. Mereka hanya menjaring sampah.

Kekecewaan ini memantik semangat dan kepedulian. Sundarianto dan kawan-kawan mulai berpikir untuk mengolah sampah-sampah di sungai tersebut. Mereka membentuk Komunitas Pemuda Etan Gladak Anyar (PEGA) Indonesia.

Nama komunitas itu didasarkan pada lokasi mereka biasa berkumpul dan memancing, yakni di sisi timur jembatan baru.

Baca Juga: Pemerintah Berikan THR dan Gaji 13 Bagi ASN, MenPANRB : Tahun Ini Terdapat Peningkatan

Mereka tidak memikirkan keuntungan apapun dari pengolahan sampah tersebut dan hanya melakukannya sambil belajar.

"Tujuan sosial kami untuk mengolah sampah. Kalau bukan kita siapa lagi," kata Sundarianto.

Tujuan profit semakin jauh, karena berdasarkan sejumlah orang, keuntungan dari pengolahan sampah menjadi kompos sangat sedikit.

Belakangan, ada yang menyarankan pemakaian larva lalat tentara hitam (maggot) untuk mengurai sampah organik. Sundarianto tertarik dan mulai mempelajari secara otodidak segala sesuatu mengenai maggot ini. Internet menyediakan semua informasi yang dibutuhkan.


Namun memulai pengolahan sampah organik dengan maggot tak murah. Tahun 2017, harga bibit magot mencapai Rp 30 ribu per gram.
"Kelompok kami tidak mampu. Maka kami memancing lalat dari alam dan mengumpulkannya untuk dibudidayakan," kata Sundarianto. Mereka baru membudidayakan maggot BSF pada 2018.


Keterlibatan PT Bumi Suksesindo, perusahaan tambang emas yang beroperasi di Tumpang Pitu, agak unik. Tak punya cukup modal untuk mengembangkan upaya pengolahan sampah, Sundariyanto dan kawan-kawan menghadang truk operasional logistik perusahaan yang biasa melintasi desa. Mereka tidak menuntut tebusan layaknya penculik. Mereka hanya mendesak PT BSI membantu pengolahan sampah.

PT BSI terkesan dengan tekad anak-anak muda yang dipimpin Sundarianto. Bukannya merepresi gerakan anak-anak muda ini, perusahaan justru sepakat membantu PEGA Indonesia pada 2018.

"Kami memberikan fasilitas tempat atau kandang untuk produksi maggot," kata Bahtiar Majid dari Community Empowerment PT BSI.

BSI juga memberikan kendaraan untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah dan warung-warung. Perusahaan memfasilitasi dan memberikan akomodasi pelatihan-pelatihan di sejumlah kawasan, seperti di kota dan kampus.

Setiap bulan diadakan pertemuan antara PT BSI dan PEGA Indonesia untuk mengurai persoalan dan mencari solusi, termasuk soal kendala produksi seperti kurangnya pakan dan sampah.

"Kami ingin budidaya maggot ini berkembang," kata Bahtiar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X