Storyjatim.com - Hari ini kita dihadapkan dengan resiko stres tinggi dikarenakan beberapa permasalahan seperti pandemi, gangguan rantai pasokan, inflasi, resesi, konflik internasional, dan masalah lain yang memengaruhi kesehatan, pekerjaan, dan hubungan kita. Oleh karena itu, membangun ketahanan terhadap stres menjadi lebih penting.
Sebuah makalah yang ditulis Steffen dan Bartlett di tahun 2022, diterbitkan dalam Policy Insights From the Behavioral and Brain Sciences, mengevaluasi bukti empiris tentang mengatasi stres dan membahas tiga praktik berbasis sains yang mendorong ketahanan.
Baca Juga: 3 Sifat Cowok Ini Membuat Fantasi Cewek Semakin Liar, Apakah Kalian Termasuk
Sebelum membahas ketiga praktik tersebut, coba kita pahami stres terlebih dahulu:
Menurut kalian, stres itu baik atau buruk?
Sebenarnya stres bisa dianggap sehat dan meningkatkan kesejahteraan jika:
- Stres dialami secara positif, maksudnya stres dijadikan sebagai tantangan dan peluang daripada ancaman.
- Stres terjadi selama kegiatan yang dipilih secara bebas, menyenangkan, dan bermakna.
Namun, bila terjadi pada tingkat yang parah, berkepanjangan, dan tanpa masa pemulihan, stres bisa berbahaya dan merugikan kesehatan.
Saat stres menjadi kronis, seseorang cenderung mengabaikan perawatan diri, baik itu olahraga teratur, makan makanan bergizi, atau tidur yang cukup, dan mengatasi stres dengan cara yang tidak sehat.
Artikel Terkait
Bagaimana Mengatasi dan Menghilangkan Rasa Mual Secara Alami? Makan Buah Ini, Gampang Didapat dan Murah
Benarkah Tidak Boleh Minum Air Kelapa Setelah Vaksin? Berikut Penjelasanya
TBRK Rumah Kopi, Kafe Cakep Yang Punya Menu Seduhan Kopi Berkualitas
Jangan Salah, Ini Dia Rangkaian Penggunaan Skincare Untuk Jenis Kulit Berminyak
3 Sifat Cowok Ini Membuat Fantasi Cewek Semakin Liar, Apakah Kalian Termasuk