Yang pertama, Ibnu Hajar Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa jangan kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji ‘Isa bin Maryam ketika orang Nasrani mengatakan: ‘Isa itu tuhan.’ Bukan lagi anak tuhan tetapi naik menjadi tuhan. Apalagi yang lainnya.
Yang kedua, pujian boleh diberikan kepada yang berhak. Tetapi sesuai dengan batasan yang telah disyariatkan oleh agama kita. Itu sebabnya ketika kita memuji seseorang dan kita tidak tahu, maka khawatir jangan-jangan pujian kita kelebihan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyariatkan kita mengatakan:
وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّه أَحَدًا
“Aku tidak bisa mensucikan seorangpun di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Yang ketiga, pujian ini adalah petaka yang telah membawa umat-umat lain jatuh ke dalam kekufuran, jatuh dalam kesyirikan. Maka umat Islam hati-hati dalam urusan puji dan memuji, dalam urusan sanjung dan menyanjung.
Artikel Terkait
dr. Zaidul Akbar Tentang Manfaat Air Kelapa, Benarkah dapat Menyehatkan Jantung !
Khutbah Jumat Ustadz Khalid Basalamah Terbaru, Wahai Para Penghina Rasulullah
Khutbah Jumat Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah: Mengenalkan Diri Kepada Allah
Khutbah Jumat Berjudul: Tentang Kunci Sukses Belajar