Lebih dalam memuji, inilah dikatakan الإطراء (kelebihan dalam menyanjung). Maka itu sebabnya di dalam hadits yang lain, Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمْ المَدَّاحِيْنَ فَاحْثَوْا فِيْ وُجُوْهِهِمُ التُّرَابَ
“Apabila engkau melihat orang-orang yang suka menyanjung (memuji), maka taburkan tanah di mukanya.” (HR. Muslim)
Sebab apa? Di antara kita manusia ini rata-rata senang dipuji, tidak ada yang senang untuk dicela, tidak ada yang senang untuk dilecehkan, tetapi untuk dipuji semuanya senang. Tetapi berhakkah kita untuk dipuji? Dan seorang yang berhak pun untuk dipuji tidak boleh pujian tersebut melangkahi dan melampaui batasan yang telah ditetapkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Sebab apa? Bahayanya berlebih-lebihan dalam memuji telah terjadi pada umat terdahulu, terjadi pada orang-orang Nasrani, sampai mereka mempertuhankan ‘Isa bin Maryam. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat khawatir dan sangat takut, maka beliau mengatakan: “Katakanlah ‘hamba dan RasulNya.'”
Artikel Terkait
dr. Zaidul Akbar Tentang Manfaat Air Kelapa, Benarkah dapat Menyehatkan Jantung !
Khutbah Jumat Ustadz Khalid Basalamah Terbaru, Wahai Para Penghina Rasulullah
Khutbah Jumat Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah: Mengenalkan Diri Kepada Allah
Khutbah Jumat Berjudul: Tentang Kunci Sukses Belajar