Lihatlah ma’asyiral muslimin, keselamatan hati. Bukan keselamatan jasmani dengan harta atau dengan adanya anak dan keluarga. Ini yang akan menyelamatkan kita di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;
أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah qalbu (hati).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Lihatlah bagaimana kesuksesan akhirat diraih dengan hati yang baik, benar, dan selamat. Dan lihatlah bagaimana keshalihan di permukaan bumi pun diraih dengan hati yang shalih yang akan memerintahkan anggota tubuh untuk keshalihan. Adapun hati yang thalih (yang tidak shalih), dia tidak akan memerintahkan kepada jasad kecuali hanya kethalihan (keburukan), hal-hal yang bertabrakan dengan keshalihan.
Ma’asyiral muslimin,
Kalau demikian adanya, maka apa yang tadi khatib katakan di awal; orang yang begitu peduli dengan kesehatan jasmaninya namun tidak peduli/ kurang peduli dengan kesehatan rohani/jiwa / hatinya, dan orang yang peduli dengan tampilan zahirnya namun dia tidak peduli kepada tampilan batinnya, orang ini adalah orang yang sangat lalai dan rugi. Dan kemungkinan besar kehancuran dunia dan akhirat adalah untuk orang-orang yang seperti itu.
Ma’asyiral muslimin sidang Jumat rahimakumullah,
Seorang mukmin, seorang muslim harus lebih peduli kepada hatinya dibanding raganya, rohaninya dibanding jasmaninya, dan harus peduli kepada batinnya lebih dari pada kepeduliannya kepada zahirnya. Tidak ada artidari zahir yang baik jika yang hidup di dalamnya batin yang rusak, jasmani yang sehat kalau hidup di dalamnya rohani yang sakit. Tidak ada artinya pula raga yang sehat akan tetapi di dalamnya hidup hati yang penuh dengan penyakit.