Allahu Akbar walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wa subhanallah hendaknya menghiasi lisan kita pada hari ke hari yang kita lalui. Menghiasi lisan kita dengan pengagungan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita tercinta, Rasul kita yang mulia, suri tauladan kita, manusia yang paling kita cintai di permukaan bumi dan kita ingin wafat di atas kecintaan kepada beliau. Karena kecintaan yang tulus kepada beliau adalah kemuliaan, keselamatan, dan surga Allah ‘Azza wa Jalla.
Saudaraku sidang Jum’at rahimakumullah,
Kita hidup di permukaan bumi dengan hati dan jasmani, zahir dan batin, dengan jasad dan ruh. Dan ini sesuatu yang ada di dalam kehidupan kita yang di mana tidak akan mungkin kita hidup tanpa keduanya. Tidak akan mungkin ruh berdiri tanpa jasad, zahir berdiri tanpa batin, dan tidak akan mungkin jasmani berjalan tanpa adanya hati di dalam jasmani tersebut.
Alangkah banyaknya manusia yang demikian peduli kepada jasadnya, zahirnya, jasmaninya. Akan tetapi kepeduliannya kepada hatinya, batin, dan ruhnya sangat tidak seimbang dengan kepeduliannya kepada zahir dan jasmaninya. Dan ini sebuah kesalahan, kekurangan, dan kelalaian yang sangat besar.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Dengan hati, kita hidup di permukaan bumi dengan ketaatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kita akan mengikuti kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan kita akan meraih ridha Allah Tabaraka wa Ta’ala di akhirat. Bukankah Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berfirman;
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ , إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat),” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88)