Legenda Ratu Nyi Roro Kidul Kerap Dikaitkan Dengan Bencana Di Laut Selatan, Begini Ceritanya

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Sabtu, 15 Oktober 2022 | 22:00 WIB
Sosok ratu nyi roro kidul
Sosok ratu nyi roro kidul

Storyjatim.com - Pulau Jawa memang banyak cerita cerita legenda yang berkembang di masyarakat.

Tak hanya cerita legenda dan mitologi, Kebudayaannya pun masih terlihat kental di Pulau Jawa ini.

Berbagai tokoh yang ada di Pulau Jawa pun dianggap seram dan disakralkan lahir ditengah pergolakan pemikiran masyarakat dari waktu ke waktu.

Tak sedikit masyarakat yang masih meyakini berbagai mitologi itu hingga era moderen ini.

Baca Juga: Bingung Membedakan Narkoba Dengan Jenis Lain, Berikut Perbedaan Sabu dan Tawas Secara Visual

Salah satu sosok mitologi yang cukup familiar dikalangan masyarakat Jawa khususnya Banyuwangi yakni sosok Ratu Nyi Roro Kidul.

Dalam berbagai kisah legenda yang tersebar di masyarakat, sosok Ratu Nyi Roro Kidul dijelaskan sebagai sosok perempuan cantik yang diyakini menjadi Penguasa Laut Selatan.

Digambarkan dengan paras ayu rupawan, bergaun serba hijau, mengenakan mahkota anggun, memiliki banyak prajurit dan suka menaiki kereta kencana khas bangsawan kerajaan dengan ditarik Kuda.

Bila terjadi sebuah tragedi atau bencana di laut selatan, sosok Ratu Nyi Roro Kidul kerap kali dikait-kaitkan dengan bencana tersebut, biasanya masyarakat menyebut bencana yang terjadi adalah buah dari kemarahan Sang Ratu.

Ketua Harian Geopark Ijen, Abdillah Baraas menyebut bila mitologi Ratu Kidul itu lahir pada tahun 1600 an. Dimana pada tahun itu di wilayah Jawa terjadi sebuah tsunami dahsyat yang memporak-porandakan sisi selatan Jawa.

Dalam pandangannya mitologi itu tercipta sebagai upaya untuk membangun kesadaran mitigasi bencana pasca terjadinya tsunami besar tersebut.

Diketahui bahwa kawasan Nusantara diapit oleh Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

Baca Juga: Cukup Pakai Air Saja atau Pakai Sabun? Begini Cara Yang Benar Cuci Wajah di Pagi Hari.

Bagi dia, lahirnya mitologi itu adalah untuk membawa sebuah gerakan untuk memobilisasi agar masyarakat tidak lagi bermukim di area yang terlalu dekat dengan bibir pantai. Mengingat resiko kebencanaan di sisi selatan Jawa yang terlampau besar.

"Ada banyak mitologi, seperti dijelaskan pada kitab pararaton, penjelasannya dibuat tembang, tari agar mudah dipahami oleh masyarakat. Orang dulu sudah pandai dalam membuat kegiatan mitigasi namun berbasis pengetahuan lokal dan disversifikasinya jelas kala itu tidak semua orang bisa paham ketika dijelaskan secara gamblang. Semua dibuat untuk memudahkan agar cepat dipahami," kata Abdillah, Sabtu (15/10/2022).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X