Selain Nyi Roro Kidul, sosok mitologi lain yang kental dengan masyarakat Jawa adalah sosok Eyang Semar. Salah satu karakter dalam tokoh pewayangan yang penokohan karakternya diteladani oleh masyarakat Jawa.
Sosoknya digambarkan memiliki perawakan kakek tua bertubuh tambun dengan ciri khas rambutnya yang dikuncir lancip atau kuncung. Ada banyak versi tentang asal usul tokoh ini. Namun semua menyebut Semar adalah penjelmaan dari Dewa.
Dalam catatan sejarah, ketika terjadi gunung berapi di Jawa meletus visualisasi sosok Eyang Semar kerab kali muncul. Visualisasinya lahir dari gugusan asap hasil dari erupsi.
Dalam catatan sejarah, terakhir gugusan asap erupsi yang membentuk visualisasi Eyang Semar yakni saat letusan Gunung Merapi, Jawa Tengah pada Maret 2020 lalu.
Namun penampakan Eyang Semar ternyata juga pernah muncul di Banyuwangi. Tepatnya saat erupsi dahsyat Gunung Raung pada tahun 1593.
Kala itu, masyarakat menyebutnya 'Eyang Semar nendang Pucuk Raung'. Menurut Abdillah erupsi yang terjadi pada tahun itu memanglah dahsyat menyebabkan langit di kawasan lingkar cincin Raung gelap gulita selama 8 hari 8 malam. Bahkan dampaknya juga terasa hingga belahan bumi Eropa.
"Pasca erupsi di tahun 1593 pucuk dari Gunung Raung hilang. Kala itu letusan sangat dahsyat, dampaknya selama tiga tahun dunia mengalami pendinginan global. Sungai di Inggris membeku. Rusia mengalami gagal panen gandum karena cahaya matahari tidak bersinar secara maksimal di wilayah itu," ujar Abdillah.
Ternyata perwujudan hilangnya pucuk Gunung Raung dan munculnya Eyang Semar itu bisa dijelaskan secara ilmiah.
Abdillah menyebut itu adalah gugusan awan hasil letusan Plinian. Ditandai dengan semburan gas vulkanik dan abu vulkanik yang menyembur tinggi hingga stratosfer, suatu lapisan atmosfer yang sangat tinggi.
Karakteristik utamanya adalah pemancaran batu apung dalam jumlah besar dan letusan letusan gas yang sangat kuat dan berlangsung lama.
Letusan pendek dapat berakhir kurang dari sehari, tetapi letusan panjang dapat mencapai beberapa bulan. Letusan panjang bermula dari pembentukan awan abu vulkanik, kadang-kadang disertai aliran piroklastik. Jumlah magma yang dikeluarkan sangat banyak sehingga puncak gunung mungkin runtuh, menghasilkan sebuah kaldera. Abu halus dapat menyebar hingga area yang sangat luas.
"Secara visual awan panas yang keluar saat letusan Plinian itu menyerupai Semar. Jumlah magma yang dikeluarkan sangat banyak sehingga puncak gunung mungkin runtuh, itulah yang melahirkan istilah Semar Nendang Pucuk Raung," tandasnya.