Lalu siapakah yang mendapatkan manfaatnya ketika kita melakukan ketaatan? Jawabannya adalah diri kita sendiri.
Demikian pula ketika manusia melakukan perbuatan maksiat. Siapa yang akan mendapatkan dampak buruknya? Jawabannya adalah kita sendiri.
Berbeda dengan makhluk ketika ada orang yang berkuasa, namun ternyata bawahannya tidak taat kepadanya. Bisa jadi itu akan mengancam kekuasaannya. Ketika ada orang yang memiliki posisi dan jabatan namun ternyata tidak mau tunduk kepadanya, bisa jadi itu akan mengancam status sosialnya. Itu manusia!
Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak berlaku hukum semacam ini.
Karena itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla banyak menegaskan di dalam Al-Qur’an, seperti di dalam surat Al-Isrā ayat 7.
Allāh Ta’āla berfirman,
إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ
“Kalau kalian berbuat baik, hakikatnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan kalau kalian berbuat jahat sesungguhnya kalian akan mendapatkan balasan atas kejahatan itu.”