Khutbah Kedua
Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah,
Para ulama ketika berbicara kepada para penuntut ilmu, “Ketahuilah bahwa sebelum Anda menimba ilmu, bersihkan bejana (tempat menampung ilmu) itu. Dan bejana ilmu adalah hati.”
Ilmu masuk melalui mata dan telinga, dan akan ditampung di dalam hati. Oleh karena itu orang-orang yang belajar melalui mata dan telinganya, ilmu masuk ke dalam hatinya. Akan tetapi jika hatinya kotor, kata para ulama, ilmu itu tidak akan bertahan di sana. Ilmu itu akan pergi karena dia mendapati tempat yang tidak layak untuk dia tempati.
Namun manakala hati itu bersih, maka ilmu akan menetap di sana. Maka kewajiban para penuntut ilmu; siapa pun kita yang menuntut ilmu kalau ingin ilmu kita bertahan, bermanfaat, dan mendapatkan hasil di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala maka bersihkan bejana ilmunya yaitu hati. Karena di situlah letaknya ilmu berada.
Di dalam hati itulah ilmu akan disimpan dan terletak. Namun manakala dia kotor, ilmu tidak akan mau hinggap di sana. Karena tempatnya tidak layak untuknya. Tempat ilmu yang baik dan suci adalah hati yang baik dan suci.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Di akhir bahasan, khatib ingin mengingatkan kita akan keikhlasan. Karena sesungguhnya ikhlas itulah yang paling utama untuk membersihkan hati. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada kita apa yang akan kita dapatkan di akhirat kelak. Bukan tergantung apa yang kita amalkan, namun tergantung bagaimana keikhlasan kita dalam beramal. Boleh jadi amalan kita besar, hasilnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu nihil. Dan boleh jadi amalan seseorang kecil di mata manusia, namun hasilnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sesuatu yang luar biasa yang menyelamatkan dia dari neraka Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ