Karena sesungguhnya para ahli ilmu mengatakan perjalanan manusia menuju Rabb-nya adalah dengan hati itu. Manusia tidak akan menuju Rabb-nya dengan jasmani, akan tetapi manusia menuju Rabb-nya hati dan ruhnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan;
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Amalan akan mengikut hati. Kalau hatinya baik, amalannya akan baik in syaa Allah. Namun kalau hatinya buruk, amalannya pun akan buruk. Sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan.
Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau tampilan zahirnya sehat namun hidup di dalamnya hati yang penuh penyakit. Seorang muslim harusnya malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau jasmaninya sehat namun hatinya penuh dengan kedengkian, su’uzhan, dan kecintaan terhadap dunia yang tidak pernah bisa dia bendung.
Hatinya lalai dari akhirat, tidak pernah memiliki cinta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang mampu menghalanginya dari perbuatan maksiat. Dan hatinya tidak memiliki cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengajaknya dan selalu memerintahkannya untuk taat dan patuh kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Hati yang tidak pernah nyaman di dalam shalat, yang tidak pernah dengan tenang membaca Al-Qur’an, hati yang tidak pernah hadir di majelis taklim, dan tidak pernah menikmati ketaatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Ini adalah hati yang dipenuhi penyakit. Yang seorang muslim malu kalau Allah Tabaraka wa Ta’ala memandang hatinya ternyata begitu. Apatah lagi kalau penampilannya adalah penampilan seorang agamis dengan baju gamis dan celana yang sesuai dengan sunnah Nabi. Tapi di dalamnya hidup hati yang penuh dengan penyakit, hati yang kotor dan jorok. Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik.
Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar dijadikan panduan untuk membersihkan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;