من تفقه من بطون الكتب ضيع الاحكام
“Barang siapa yang hanya belajar dari perut kitab tanpa bimbingan orang ‘alim, maka dia akan menghancurkan hukum agama.”
Apalagi kita akan berbicara tentang agama di hadapan orang banyak tanpa ilmu. Sudah cukup bagi kita pelajaran-pelajaran dari pendahulu-pendahulu kita. Ketika mereka berbicara tanpa ilmu, maka petaka mereka terima di dunia sebelum di akhirat.
Ambil contoh tentang seseorang dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Lantas dia ingin bertaubat kepada Rabbul ‘Alamin Tabaraka wa Ta’ala. Dia bertanya, “Siapa penduduk bumi yang paling ‘alim?”
فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ
“Ternyata dia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah).”
Bicara Tanpa Ilmu
Kemudian dia mengatakan kepada rahib, “Aku sudah membunuh 99 nyawa. Adakah jalan taubat bagiku?” Si jahil menjawab, yang dia hanya bermodalkan ahli dalam ibadah, “Dosamu terlalu banyak. Bagaimana mungkin Rabbul ‘Alamin Tabaraka wa Ta’ala akan mengampuni dosamu?”
Dan marahlah si penanya, “Saya sudah mau baik. Kok, dia tidak menunjukkan jalan untuk menempuh kebaikan?”
فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً
“Seketika itu dia membunuh sang rahib. Maka dia telah menggenapkan membunuh 100 nyawa.”
Ini petaka yang orang berfatwa tanpa ilmu terima. Berbicara tanpa ilmu. Sebelum dia mencelakai orang lain, dia sudah celaka di dunia ini. Lalu begitu dia bertanya, mana orang paling ‘alim di dunia ini?
فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ
“Lalu ditunjukkanlah dia kepada seseorang yang berilmu.”
Kemudian orang ‘alim itu menjawab pertanyaannya, “Apa yang menghalangimu untuk bertaubat? Selama matahari belum terbit dari barat, selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat terbuka lebar. Tetapi wahai saudaraku, engkau berada di negeri yang jahat. Silahkan engkau pindah ke negeri yang bertauhid yang penduduknya beribadah kepada Rabbul ‘Alamin Tabaraka wa Ta’ala.”
Lalu berhijrahlah dia. Hijrah amalan dan hijrah negeri. Maka dia pun berjalan.Sampai di tengah jalan, Allah Subhanahu wa Ta’ala wafatkan dia. Berselisihlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab. Malaikat Adzab mengatakan dia belum berbuat kebaikan sama sekali. Malaikat Rahmat mengatakan dia sudah bertaubat, dia menuju kebaikan. Maka mereka mengukur jarak mana yang terdekat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dekatkan dia ke negeri tauhid. Maka Rabbul ‘Alamin Tabaraka wa Ta’ala pun mengampuninya.
Artikel Terkait
Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat 29 Juli 2022: Peruntungan dan Hoki Aries, Taurus, Gemini hingga Virgo
Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat 29 Juli 2022: Peruntungan dan Hoki Libra, Scorpio, Sagitarius hingga Pisces
Tiap Malam Jumat Arwah Orang Meninggal Pulang ke Rumah, Benarkah? Begini Penjelasan Buya Yahya
Khutbah Jumat Menenangkan Jiwa Berjudul Hati yang Sehat