Satu tema yang kita angkat pada khutbah yang mulia ini adalah berhati-hati dalam beragama. Kehati-hatian dalam agama bukanlah bentuk sikap ekstremis. Bukan pula sikap was-was. Tetapi dia adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menghendaki keselamatan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Khutbah Jumat 'Rasa Aman' dengan Mengamalkan Ajaran Islam
Di antara tanda dari tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam 1400 tahun yang lalu adalah beliau sudah berbicara dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan juga Imam Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.
“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh (dalam perkara agama) yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad)[2]
Dan Ini bukti nyata dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Betapa banyak orang yang berbicara tentang urusan agama namun dia belum berhak untuk berbicara tentang urusan agama. Sehingga akibatnya yang haq dia katakan bathil. Yang syubhat dikatakan terang, yang sunnah dikatakan bid’ah dan yang bid’ah dikatakan sunnah. Lalu yang tauhid dikatakan syirik dan yang sirik dikatakan tauhid. Sebab tidak punya ilmu lantas berani berbicara hanya modal percaya diri dan modal memiliki follower yang banyak. Sehingga akibatnya adalah sesat dan menyesatkan. Wal iyyadzubillah.
Tiga Bagian Ilmu
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sumber ilmu di dalam Islam sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma;
العلم ثلاثة: كتاب ناطق و سنة ماضية ولا أدري
“Ilmu itu ada tiga; Al-Qur’anul Karim, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengatakan terhadap sesuatu yang kita ketahui dengan ‘Saya tidak tahu’.” (HR. Thabrani fil Ausath)[3]
Bukan suatu cela dan cacat bagi seorang ‘alim ketika dia mengatakan “Aku tidak tahu, aku tidak bisa, aku belum menguasai.” Bahkan suatu cela dan cacat adalah ketika orang yang memiliki ilmu ketika ditanya lantas dia tidak tahu namun dia tidak berani mengatakan bahwa dirinya tidak tahu. Al-Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala berkata;
اذا أخطأ العالم “لا ادري” فقط اُصيبت ما قَاتِلُهُ هو كما قال رحم الله تعالى.
“Ketika orang berilmu sudah tidak bisa lagi mengatakan kata-kata ‘Aku tidak tahu’ maka berbahayalah posisinya.”
Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin rahimani wa iyyakum,
Ketika orang jahil berbicara tentang agama, maka hancurlah Islam. Belajar dengan cara yang tidak benar saja, maka dia akan menghancurkan hukum agama. Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala mengatakan;
Artikel Terkait
Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat 29 Juli 2022: Peruntungan dan Hoki Aries, Taurus, Gemini hingga Virgo
Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat 29 Juli 2022: Peruntungan dan Hoki Libra, Scorpio, Sagitarius hingga Pisces
Tiap Malam Jumat Arwah Orang Meninggal Pulang ke Rumah, Benarkah? Begini Penjelasan Buya Yahya
Khutbah Jumat Menenangkan Jiwa Berjudul Hati yang Sehat