Referensi Khutbah Jumat Hati-Hati dalam Urusan Agama

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Sabtu, 29 Juli 2023 | 19:50 WIB
Referensi Khutbah Jumat Hati-Hati dalam Urusan Agama (Screenshot Freepik/ freepik )
Referensi Khutbah Jumat Hati-Hati dalam Urusan Agama (Screenshot Freepik/ freepik )

Satu tema yang kita angkat pada khutbah yang mulia ini adalah berhati-hati dalam beragama. Kehati-hatian dalam agama bukanlah bentuk sikap ekstremis. Bukan pula sikap was-was. Tetapi dia adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menghendaki keselamatan dunia dan akhirat.

Baca Juga: Khutbah Jumat 'Rasa Aman' dengan Mengamalkan Ajaran Islam

Di antara tanda dari tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam 1400 tahun yang lalu adalah beliau sudah berbicara dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan juga Imam Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh (dalam perkara agama) yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad)[2]

Dan Ini bukti nyata dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Betapa banyak orang yang berbicara tentang urusan agama namun dia belum berhak untuk berbicara tentang urusan agama. Sehingga akibatnya yang haq dia katakan bathil. Yang syubhat dikatakan terang, yang sunnah dikatakan bid’ah dan yang bid’ah dikatakan sunnah. Lalu yang tauhid dikatakan syirik dan yang sirik dikatakan tauhid. Sebab tidak punya ilmu lantas berani berbicara hanya modal percaya diri dan modal memiliki follower yang banyak. Sehingga akibatnya adalah sesat dan menyesatkan. Wal iyyadzubillah.

Tiga Bagian Ilmu

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sumber ilmu di dalam Islam sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma;

العلم ثلاثة: كتاب ناطق و سنة ماضية ولا أدري

“Ilmu itu ada tiga; Al-Qur’anul Karim, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengatakan terhadap sesuatu yang kita ketahui dengan ‘Saya tidak tahu’.” (HR. Thabrani fil Ausath)[3]

Bukan suatu cela dan cacat bagi seorang ‘alim ketika dia mengatakan “Aku tidak tahu, aku tidak bisa, aku belum menguasai.” Bahkan suatu cela dan cacat adalah ketika orang yang memiliki ilmu ketika ditanya lantas dia tidak tahu namun dia tidak berani mengatakan bahwa dirinya tidak tahu. Al-Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala berkata;

اذا أخطأ العالم “لا ادري” فقط اُصيبت ما قَاتِلُهُ هو كما قال رحم الله تعالى.

“Ketika orang berilmu sudah tidak bisa lagi mengatakan kata-kata ‘Aku tidak tahu’ maka berbahayalah posisinya.”

Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin rahimani wa iyyakum,
Ketika orang jahil berbicara tentang agama, maka hancurlah Islam. Belajar dengan cara yang tidak benar saja, maka dia akan menghancurkan hukum agama. Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala mengatakan;

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kick Off HSN 2025, Banyuwangi Canangkan Pesantren Aman

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:21 WIB

Ulasan Lengkap Biografi 4 Wanita Penghulu Surga

Minggu, 30 Juli 2023 | 21:36 WIB

Khutbah Jumat Terpopuler 'Iman Kepada Allah SWT'

Sabtu, 29 Juli 2023 | 20:59 WIB

Terpopuler

X