PT BSI Ajak Petani Beralih Ke Pupuk Organik, Ditengah Harga Pupuk Kimia Semakin Meroket

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Rabu, 13 Maret 2024 | 12:07 WIB
PT BSI Ajak Petani Memakai Pupuk Organik, Uji Coba Dilakukan bersama Petani
PT BSI Ajak Petani Memakai Pupuk Organik, Uji Coba Dilakukan bersama Petani

Banyuwangi, Storyjatim.com - Petani di Indonesia saat ini menghadapi problem pembatasan pupuk kimia bersubsidi. Pemerintah mengurangi jumlah komoditas yang bisa disubsidi dan kuantitas pupuk yang diberikan. Ini membuat harga produksi pertanian makin mahal dan beban ekonomi petani makin tinggi.

Pupuk organik menjadi solusi yang kembali diperbincangkan hari-hari ini. PT Bumi Suksesindo (PT BSI), perusahaan tambang emas yang beroperasi di Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur mengubah kultur budi daya petani yang terbiasa dengan pupuk kimia melalui pengembangan usaha ternak kambing di Kecamatan Pesanggaran.

Hari Setio Budi, petugas Community Relation PT BSI, mengatakan, bersama petani, mereka menguji coba pembuatan pupuk organik pada medio 2023 oleh kelompok tani Rawa Jaya.

Baca Juga: KPU Jatim Umumkan Hasil Perolehan Suara Pemilu, Prabowo - Gibran Kantongi 16 Juta Suara

“Program pupuk organik ini bisa menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pembatasan program pupuk bersubsidi pemerintah,” katanya.

Yang menarik, pembuatan pupuk organik ini merupakan bentuk hilirisasi program ternak kambing. Selama bertahun-tahun masyarakat Pesanggaran sudah terbiasa memelihara dan membudidayakan kambing dan menanam buah naga secara massif.

“Ketika keduanya dikolaborasikan, akan menjadi program yang baik,” kata Hari.

Mulanya adalah 80 ekor kambing. PT BSI memberikan kambing-kambing itu kepada empat kelompok yang masing-masing beranggotakan sepuluh orang. Setiap kelompok memperoleh 20 ekor kambing. “Program ini menyasar kelompok-kelompok di wilayah ring satu Kecamatan Pesanggaran dengan semangat memanfaatkan potensi lokal,” kata Hari.

Kambing ini dibudidayakan sebagai program bergulir oleh 14 kelompok yang beranggotakan 200-300 orang anggota.

“Setiap anggota mendapat dua kambing indukan. Setelah berkembang dan beranak-pinak, digulirkan ke anggota yang belum memperolehnya. Jumlah kambing di kelompok kami sekarang kurang lebih 670 ekor dan dimiliki 34 orang anggota,” kata Sujiono, Ketua Kelompok Rawa Jaya.

Program bergulir ini sangat membantu masyarakat.

“Tadinya tak punya kambing. Lalu setelah ada kelompok, semua anggota merasakan punya kambing untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Sujiono.

Kambing-kambing ini memiliki fungsi ekonomi dan pertanian. Sebagian kambing dijual untuk mencukupi kebutuhan hidup anggota. Kurang lebih ada 800 ekor kambing yang dijual untuk mencukupi kebutuhan ekonomi.

Seluruh anggota Rawa Jaya diwajibkan mengumpulkan kotoran kambing masing-masing untuk diolah. Sebenarnya Sujiono dan kawan-kawan sudah lama memproduksi pupuk organik.

Baca Juga: Agar Tidak Lemas, Simak Nih Menu Sahur Sehat untuk Menjalankan Puasa di Hari Pertama

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X