"Seblang subuh yang menjadi penutup dari pagelaran Gandrung terob itu kini sudah hilang dengan sendirinya, karena banyaknya permintaan untuk menari seperti biasa," Tambahnya.
Baca Juga: Dorong Kualitas Hidup Sehat, Amartha dan PMI Jember Gelar Donor Darah
Sempat muncul persepsi bahwa Gandrung Terob identik dengan adanya miras, sehingga Gandrung pada tahun 90an kerap di anggap negatif dan termarjinalkan oleh persepsi masyarakat.
Sejak itulah tokoh yang bernama Mitro Hadi menarik kembali Gandrung dengan merevisi kesenian Gandrung dengan tari Jejer Gandrung.
Sehingga kesenian yang sempat termarjinalkan kini kembali diterima masyarakat, bahkan tak sedikit siswi SD yang ingin menjadi penari Gandrung, terlebih dengan adanya pemerintah Banyuwangi yang memberikan ruang bagi para pecinta seni dengan membuat Festival Sewu Gandrung.
Artikel Terkait
Kantongi Sertifikat Halal, UMKM Binaan PT BSI Di Banyuwangi Semakin Berkembang
Security Di Banyuwangi Luka Bagian Kepala Akibat Sabetan Clurit, Usai Tegur Komplotan Diduga Pencuri Kelapa, Pelaku Sempat Kabur Ke Bali
Gempa Bumi Guncang Kabupaten Bandung, Disini Titik Koordinatnya, Wilayah Tetangga Terkena Dampak
Banyak Baliho Di Copot, Gambar Kaesang Membawa Boneka Justru Luput Dari Penertiban, Kenapa Ya..?
Jelang Pilpres 2024, Pemerintah Angkat 3 Juta Honorer Langsung Jadi ASN
Dorong Kualitas Hidup Sehat, Amartha dan PMI Jember Gelar Donor Darah