Perkuat Ketahanan Pangan, LDII Dorong Diversifikasi Makanan Pokok

photo author
Nurul Yakin, Story Jatim
- Kamis, 28 Juli 2022 | 21:46 WIB
LDII dorong diversifikasi makanan pokok untuk memperkuat ketahanan pangan.  (DPP LDII)
LDII dorong diversifikasi makanan pokok untuk memperkuat ketahanan pangan. (DPP LDII)

Storyjatim.com - Imbas perang Rusia dan Ukraina mendorong naiknya harga pangan dunia terutama gandum. Indonesia yang sebagian besar penduduknya mengkonsumsi mie instan bahkan roti, harus bersiap menerima kenaikan harga makanan yang merakyat itu.

Selain nasi, penduduk Indonesia menggemari mie instan dan roti yang bahan baku utamanya adalah tepung gandum. "Masalah pangan ini harus jadi perhatian kita semua, lahan persawahan untuk padi terus menyusut. Sementara gandum menjadi komoditas yang langka juga mahal akibat perang," ucap Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso

Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas pangan harus segera dicari solusinya. "Meskipun padi dan jagung ditanam secara lokal, namun belum mencapai swasembada. Apalagi gandum yang belum ditanam di Indonesia," kata KH Chriswanto.

Baca Juga: Hadirkan Eks Napiter, Cangkir Opini dan Mahasiswa Bangkalan Ajak Warga Perangi Ekstremisme Agama

Menurutnya, DPP LDII menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu program strategis yang biasa disebut delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa. Pihaknya telah mendorong warga LDII untuk berinovasi dalam bidang pertanian, baik dengan digitalisasi pertanian maupun diversifikasi pangan. 

Salah satu warga LDII, kini bergiat membudidayakan tanaman sorgum, yang menjadi lima makanan pokok dunia selain padi, jagung, gandum, dan barley. Tanaman tersebut dikembangkan oleh Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), Anton Kuswoyo. Ia berupaya mendiversifikasi pangan lokal dengan cara membudidayakan tanaman sorgum.

Menurutnya, diversifikasi atau penganekaragaman adalah suatu cara untuk mengadakan lebih dari satu jenis barang/komoditi yang dikonsumsi. “Hal ini sebagai upaya, agar masyarakat tidak tergantung pada satu jenis makanan pokok saja, yakni hanya dari padi,” ungkapnya.

Baca Juga: Sambut Bulan Muharram 2022, Buya Yahya: Cukup Amalan Satu Ini Akan Mendapat Pahala Berlipat Ganda

Ia mengungkapkan, latar belakang melakukan diversifikasi pangan adalah mengingat pentingnya ketersediaan pangan bagi setiap orang. “Tanpa pangan yang cukup, semua orang tentu akan sulit untuk mempertahankan hidup dan kehidupan,” ujarnya.

Hingga saat ini, mayoritas penduduk Indonesia mengkonsumsi padi (nasi). Bahkan persentasenya mencapai 97 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan jumlah sawah tiap tahun justru mengalami penurunan drastis. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan luas lahan baku sawah, baik yang beririgasi teknis maupun non irigasi mengalami penurunan rata-rata seluas 650 ribu hektare per tahun.

Menurutnya, sorgum merupakan bahan pangan alternatif pengganti karbohidrat. Kandungan karbohidrat mencapai (74.63 gr/100 gr bahan) lebih tinggi daripada gandum (71.97 gr/100 gr bahan) dan peringkat ketiga setelah padi (79.15 gr/100 gr bahan), dan jagung (76.85 gr/100 gr bahan).

Baca Juga: Bikin Merinding! Inilah Sederet Destinasi Wisata Angker di Banyuwangi

Artinya, sorgum dapat dijadikan pangan pokok selain padi. Ia mengungkapkan, sorgum memiliki keunggulan dibandingkan padi dalam hal kemudahan budidaya. “Sorgum dapat dibudidayakan di lahan kering yang tidak terlalu subur. Berbeda dengan padi yang memerlukan lahan subur dan umumnya lahan persawahan,” jelasnya.

Dikutip dari buku "Sorgum Tanaman Multi Manfaat", sorgum termasuk tanaman serealia yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis, khususnya pada daerah-daerah yang tingkat kesuburan tanahnya rendah. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nurul Yakin

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X