Baca Juga: Misteri Hilangnya Cincin Merah Delima Bung Karno Di Ambil Nyi Ratu Kidul Hingga Runtuhnya Jabatan
Jika dilihat Pada 1930 itu berhadapan dengan surplus kapital yang datang dari luar Indonesia, yang ingin mencari lapangan untuk penanaman kapital, dan pasar barang dan jasa.
Bung Karno melihat bagaimana surplus kapital di suatu tempat itu bergerak mencari di tempat lain, arena lain, sekaligus juga untuk menguasai pasar barang dan jasa suatu wilayah. Jadi pasar dalam pemahaman atau perspektif Bung Karno adalah suatu arena politik, arena kontestasi, terutama kontestasi antara kekuasaan dan modal. (*)