daerah

Memperjuangkan Spirit Kurikulum Merdeka

Rabu, 3 April 2024 | 15:54 WIB
Ilustrasi - Memperjuangkan Spirit Kurikulum Merdeka (Google)

Storyjatim.com - Penggunaan kata “merdeka” pada kurikulum merdeka bukanlah tanpa sebab. Penggunaan kata merdeka ini juga bukan sebagai ajang pamer dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Saya yakin kata merdeka yang dipilih pemerintah sebagai nama kurikulum pendidikan Indonesia telah melalui kajian panjang tentang spirit, sejarah, dan filosofi yang melatarbelakanginya. Dengan begitu proses internalisasi tujuan kurikulum merdeka bisa lebih mudah dicapai.

Dalam konteks sejarah khususnya di era pergerakan, diksi merdeka juga selalu senafas dan sinonim dengan unsur-unsur progresivitas, kritisisme, humanitas, dan nasionalisme.

Maka dengan meminjam kata merdeka bisa dipastikan bila tujuan akhir kurikulum merdeka adalah memperjuangkan spirit progresivitas, kritisisme, humanitas, dan nasionalisme.

Baca Juga: Momen Saksi Kubu Ganjar Luapkan Perasaanya Disidang Sengketa Pemilu 2024, Sunan : Kemana Lagi Kami Harus Mencari Kepastian Hukum

Selain itu dalam wilayah pemaknaan, diksi merdeka digunakan oleh para aktivis pergerakan sebagai wujud tuntutan paling radikal atas penjajahan dan upaya perjuangan mengubah nasib dengan tenaga sendiri.

Dengan begitu kurikulum merdeka era Menteri Nadiem Makarim didesain sebagai upaya melawan penjajahan modern berupa kebodohan, sikap anti kritik, anti teknologi, dan sifat bebal.

Bila ada stakeholder pendidikan memaknai kurikulum merdeka dengan makna lain, maka bisa dipastikan jika ia adalah oknum yang tidak memahami spirit kata merdeka dan sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Ia telah gagal dalam memahami tujuan tertinggi pendidikan dan tujuan final yang ingin dicapai kurikulum merdeka.

Spirit kata merdeka
Dalam era pergerakan kata merdeka adalah kata-kata paling tabu untuk diucapkan. Kata-kata ini dilarang diucapkan karena mengandung makna yang sangat berbahaya. Kata merdeka mengandung arti pembebasan dari penindasan dan kemampuan untuk berdikari dari bangsa terjajah.

Namun, disinilah hebatnya tokoh-tokoh pergerakan kita di masa lalu. Semakin keras larangan suatu kata diucapkan maka semakin menjadi-jadi gairah untuk mengucapkan kata tersebut. Begitulah kata-kata merdeka berubah menjadi kata favorit bagi seluruh pejuang pendiri bangs.

Mohammad Hatta pernah mempropagandakan kata merdeka ini di depan hakim pengadilan Belanda. Pada 9 Maret 1928 Bung Hatta membacakan pledoi terkenalnya berjudul “Indonesia Merdeka.” Melalui pledoi itu Bung Hatta mengkritik kolonialisme Belanda atas rakyat Indonesia. Bung Hatta mendakwa bahwa penjajahan Belanda adalah biang keladi atas kesengsaraan, kebodohan, dan keterpurukan rakyat pribumi Indonesia.

Soekarno tidak mau kalah. Ia juga mempropagandakan kata merdeka melalui risalah terkenalnya berjudul “Mencapai Indonesia Merdeka.” Risalah ini ditulis Bung Karno pada bulan Maret tahun 1933.

Ia menghimbau para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk menyatukan barisan, memperkuat partai marhaen, dan memperbesar api kesadaran untuk mencapai jembatan emas kemerdekaan. Hanya dengan begitu kebangkitan Indonesia bisa diraih.

Sebetulnya, jauh sebelum Bung Karno dan Bung Hatta mempropagandakan kata merdeka, Mas Marco Kartodikromo telah menyuarakan kata-kata ini melalui karya sastra. Pada tahun 1918 Mas Marco Kartodikromo telah berhasil menerbitkan novel berjudul “Rasa Merdika” dari balik jeruji penjara.

Di novel Rasa Merdika ini Mas Marco mengkritik mentalitas budak yang dimiliki rakyat pribumi. Mentalitas budak itu lahir dari jahatnya kapitalisme yang dilakukan para penjajah. Mentalitas budak ini hanya bisa dihilangkan melalui pendidikan yang berkualitas dan keterbukaan pikiran.

Halaman:

Tags

Terkini