Banyuwangi, Storyjatim.Com - Matahari belum menunjukan sinarnya, di pagi itu suasana Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi Jawa Timur sudah mulai sibuk dengan segala persiapan menyambut pesta panen, Yakni Acara ritual adat Kebo - Keboan.
Terlihat semua warga mulai sibuk menyiapkan hidangan untuk selamatan bersih Desa, anak anak remaja pun sibuk dalam mempersiapkan atribut untuk ider bumi, bapak bapak pun mempersiapkan sesajen perlengkapan tradisi ritual adat Kebo Keboan.
Meski demikian, ketika saya datang, mereka menyambutnya dengan hangat, warga pun berbahagia mengetahui saya datang dari lain daerah untuk menyaksikan ritual di Desanya. Seorang ibu yang sedang menyiapkannya sajian selamatan mengajak saya untuk menyantap masakan pecel pithik (pecel ayam) yang sudah di buatnya itu.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Kebo Keboan Alasmalang Banyuwangi Ratusan Tahun Sudah Digelar Dari Mbah Buyut Karti
Keakrapanpun tak terkendali sembari berbincang-bincang yang semakin hangat itu kami mengetahui banyak hal tentang ritual adat itu, ritual adat yang konon di gelar sejak 1725 yang di cetuskan oleh mbah buyut Karti itu diketahui ternyata upacara pesta panen, dari asal katanya Kebo-keboan diambil dari kata Kebo yang artinya kerbau, akan tetapi ritual ini sama sekali tidak menggunakan kerbau, melainkan peragaanya yang digunakan adalah manusia (laki laki) dan Dewi Sri (gadis), ritual ini diselenggarakan setiap bulan muharram atau Suro.
Sejak tahun 1725 Kebo Keboan Alasmalang sudah lahir, Selain sekelompok laki laki memperagakan kerbau, seorang gadis cantik pilihan juga diperagakan menjadi Dewi Sri, kerbau dan Dewi Sri dianggap sebagai simbol yang banyak membantu dalam pertanian. Atas dasar rasa syukur itu masyarakat Desa Alasmalang, Yang dalam hal ini dipresentasikan Keboan dan Dewi Sri.
Adapun Bagian inti dalam ritual adat Kebo Keboan Alasmalang ini adalah selamatan dimakam leluhur mbah buyut Karti dan ider bumi, untuk selamatan di makam leluhur sendiri dilaksanakan sehari sebelum kegiatan ider bumi. Ider bumi ialah ritual mengelilingi desa yang dilakukan oleh Keboan, Dewi Sri, pawang, dan juga masyarakat setempat. Uniknya pada saat ider bumi keboan mengalami kerasukan hingga layaknya kerbau, masyarakat percaya bahwa saat ider bumi roh leluhur ikut serta dalam pesta panen ini.
Baca Juga: Sehari Sebelum Upacara Keboan Aliyan Banyuwangi Dilaksanakan, Warga Kembali Kesurupan
Pawai ider bumi berjalan mengelilingi desa empat penjuru mata angin, saat itu Kebo Keboan akan berkubang jika bertemu dengan goyangan (kubangan air), kemudian mereka ke arah persawahan, disinilah Kebo Keboan tersebut mulai prilakunya seperti kerbau, membajak sawah, berkubang (goyang ucapan suku Osing) , dilanjutkan dengan penanaman benih padi atau saat benih ditebar, masyarakat berebut untuk mendapatkannya, karena masyarakat meyakini jika yang mendapatkan dan ditebar kesawahnya akan membuat kesuburan.
Ritual ini awalnya hanya dilaksanakan warga setempat, karena perkembangan zaman kini menjadi sajian yang bisa ditonton oleh masyarakat umum sebagai atraksi wisata.
Artikel Terkait
Di Bulan Suro, Kapan Keboan dan Kebo Keboan di Banyuwangi Dilaksanakan? Catat Tanggalnya Tradisi Unik Di Jawa
Sudut Malam Desa Aliyan Sebelum Ritual Keboan, Bazar Jajanan Tradisional dan Makanan Khas Gule Menthok
Sehari Sebelum Upacara Keboan Aliyan Banyuwangi Dilaksanakan, Warga Kembali Kesurupan
Hadir Di Keboan Aliyan, Ketua DPRD Banyuwangi Berkesempatan Naik Ogoh Ogoh Kerbau
Turis Mancanegara Terkesima Dengan Adat Keboan dan Jajanan Khas Banyuwangi, Menpan RB Kangen Dengan Aliyan