Dalam latihan pidato dengan suara yang lantang Bapak Proklamator tersebut tak jarang menarik perhatian tetangga kamar kos di tempat itu bahkan tertawa mendengar Bung Karno yang berbicara sendiri.
Bagaimana tidak, kamar tempat Bung Karno tersebut jauh dari kata mewah, dengan hanya ruangan sempit di atas loteng, tak ada jendela hingga udara pun tak bisa masuk dan terasa pengap.
Bahkan dengan minimnya penerangan dimana Soekarno tak mampu untuk membeli bohlam dan hanya bisa menggunakan sebuah pelita, namun hal tersebut tak menyulutkan rasa ingin belajar.
Hingga akhirnya Bung Karno pun menjadi sang Proklamator yang disegani dunia, siapapun yang mendengar pidato Bung Karno tak jarang semangat nasionalismenya seketika membara. (*)