Selain itu, serapan beras oleh Bulog Banyuwangi dari hasil panen petani juga menunjukkan lonjakan signifikan. Tahun ini, Bulog berhasil menyerap 52.162 ton beras, jauh lebih tinggi dibanding tahun 2023 yang hanya 4.943 ton dan tahun 2024 sebanyak 5.329 ton setara beras.
Kondisi ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan harga gabah kering panen menjadi Rp6.500 per kilogram, serta ketersediaan pupuk bersubsidi yang mencukupi.
Bahkan Menteri Pertanian pada 22 Oktober kemarin juga mengumumkan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Harga pupuk Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK dari Rp2.350 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Asistent Vice President Agrosolution Pupuk Kaltim Wilayah Jatim dan Nusra, Atik Dwi Purwadari mengatakan, program Agrosolution merupakan upaya Pupuk Kaltim untuk meningkatkan produktivitas pertanian petani.
Program Agrosolution didukung oleh produk unggulan Pupuk Kaltim yang telah terbukti cocok dengan berbagai jenis tanaman dan karakteristik lahan. Produk-produk tersebut antara lain pupuk hayati seperti Ecofert dan Biodex.
“Selain di Sempu, Demplot padi juga kita lakukan di Kalibaru, Genteng, dan Blimbingsari. Ini bentuk dukungan kami bersama pemerintah daerah dan BUMN dalam membantu menyukseskan swasenbada pangan oleh Bapak Presiden,” ucapnya.
Ketua Kelompok Tani Lamtoro Gung Desa Jambewangi, Muhammad Hanifulloh, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkab Banyuwangi dan Pupuk Kaltim. Ia mengatakan, selain untuk tanaman padi, pembinaan juga diberikan kepada petani buah naga di wilayah tersebut.