Mengetahui Arti Kata Jancuk Sesungguhnya Menurut Buku Filsafat Kata

photo author
Abdul Konik, Story Jatim
- Jumat, 28 Juli 2023 | 23:32 WIB
Arti kata Jancuk Sesungguhnya menurut buku Filsafat kata  (Sampul Buku Filsafat Kata)
Arti kata Jancuk Sesungguhnya menurut buku Filsafat kata (Sampul Buku Filsafat Kata)

Storyjatim.com - Jancuk kata yang sangat familiar dikalangan orang Jawa hingga suku suku lainya. 

Kata Jancuk dikonotasikan hal yang negatif oleh sebagian orang, namun ada pula untuk menyapa sahabat. 

Jancuk sendiri tak mempunyai arti yang pasti, kata tersebut lahir di kota Surabaya. 

Storyjatim.com mengutip dari Buku Filsafat Kata yang ditulis oleh Reza A. A. Wattimena bahwa ketika menyatakan rasa bencinya. Kata ini bukanlah kata sifat, atau kata kerja. Ia hanya kata. Ia adalah ekspresi.

Baca Juga: Empat Zodiak Yang Dapatkan Keberuntungan Di tanggal 5 Agustus 2022

Seorang filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah berpendapat, bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya.

 

Namun Wittgenstein juga menambahkan, bahwa makna dari suatu kata tidaklah melulu lahir dari konteks semata, tetapi juga dari penggunaannya. Meaning as use begitu katanya. Makna kata “jancuk” tidaklah lahir dari kesepakatan semata, tetapi dari bagaimana kata ini digunakan di dalam interaksi manusia sehari-hari. Orang Aceh punya senjata tradisional.

Baca Juga: Geger Satu Bioskop, Usai Nonton Film Pengabdi Setan 2 Cewek Baju Putih Tak Sadar

Namanya rencong. Orang Betawi juga punya. Namanya golok. Orang Jawa Tengah punya senjata khas, yakni keris. Namun orang Surabaya – ironisnya – tidak punya senjata tradisional. Bahkan menurut pendapat seorang teman, (Pak Muliady) senjata orang Surabaya adalah mulutnya, yah jancuk itu. Apa artinya? Artinya cukup jelas. Orang Surabaya tidak akan menusukmu dari belakang. Orang Surabaya tidak akan merusakmu secara fisik. Mereka hanya akan berkata keras padamu. Sehabis itu... ya sudah, selesai.

Bangsa kita memang terkenal suka memelintir kata. Beragam kata dipelintir bunyinya, dan menghasilkan makna baru yang berbeda. Kata jancuk amat dekat dengan kata ngecuk, yang berarti berhubungan seks. Namun

maknanya amat berbeda. Kata jancuk seolah terbelah di antara dua makna. Yang pertama adalah tanda keakraban dengan teman sejawat. Yang kedua adalah ekspresi kemarahan pada orang atau suatu peristiwa. Kata ini memulai pelukan. Namun pada saat yang sama, kata ini bisa memulai pertengkaran.

Namun pertengkaran tidaklah lama. Ini hanya ekspresi kemarahan. Jika masalah selesai, yah semua ikut selesai. Itu uniknya orang Surabaya. Tidak ada dendam yang tersimpan. Tak ada marah yang tersisa. Jancuk... lalu sudah, Maka kata ini bersifat kondisional. Ia bermakna dalam konteks, dan amat tergantung bagaimana ia digunakan, apakah dengan penekanan, atau tidak. Ini adalah bahasa lokal. Tidak ada terjemahan persis untuk Kata ini, kata ini menggambarkan ontologi orang Surabaya. Setiap kota memiliki satu kata untuk melukiskannya.

Untuk Surabaya kata itu adalah jancuk. Di dalamnya terdapat kelugasan, keterbukaan, mental egaliter, persahabatan, sekaligus ekspresi kemarahan yang amat khas Suroboyo-an. Bahkan secara analog dapatlah dikatakan, bahwa “arek” adalah id login orang Surabaya. Sementara jancuk adalah password-nya. Orang hanya layak disebut orang Surabaya, ketika ia memahami arti kata arek dan jancuk, serta bagaimana menggunakannya.

Baca Juga: Deretan Ide Lomba Agustus 2022 HUT RI Ke 77

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Konik

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X