Lihat dan ingatlah waktu kita masih dalam perut ibu kita, masih jadi janin, kita tidak bisa berbuat apa-apa, Allah beri rezeki kepada kita. Tatkala kita lahir, belum bisa apa-apa, belum bisa berbicara, belum bisa bekerja, Allah beri rezeki kepada kita. Terus Allah beri rezeki kepada kita. Lantas tatkala kita sudah besar, sudah dewasa, sudah cerdas, sudah memiliki keahlian untuk mencari nafkah, apa kita su’udzon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Ingatlah betapa banyak rezeki yang Allah berikan kepada kita tanpa kita minta. Tanpa kita minta Allah berikan kepada kita. Lantas bagaimana kalau kita minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karenanya Nabi Musa ‘Alaihis Salam tatkala dia diutus oleh Allah untuk pergi ke Firaun, dia berdoa kepada Allah dengan doanya yang masyhur:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨﴾ وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي ﴿٢٩﴾ هَارُونَ أَخِي ﴿٣٠﴾
“Dia berdoa: ‘Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah lisanku mudah untuk menyampaikan agar mereka mengerti apa yang aku sampaikan.’”
Doa yang dia minta. Aapa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala?
قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ ﴿٣٦﴾
“Wahai Musa, Aku telah mengabulkan permintaanmu sekarang juga.” (QS. Taha[20]: 36)