Kalau rajanya suci, ia akan perintahkan mata, kaki, lisan, tangan, dan telinga untuk mendengarkan, melihat, dan mengucapkan yang suci-suci serta melangkah ke tempat-tempat suci. Namun kalau hatinya kotor, dia akan perintahkan mata untuk melihat yang kotor, perintahkan telinga untuk mendengar yang kotor, lisan untuk mengucapkan kalimat-kalimat kotor, serta memerintahkan tangan dan kaki untuk mengambil dan melangkah ke tempat-tempat kotor. Itulah hati.
Ketika iman adalah bahasan hati, mengertilah kita akan pentingnya babul iman. Karena mana kala iman itu menguasai hati, maka hati akan berubah menjadi hati yang beriman. Yang menghancurkan apa-apa yang kotor yang bisa merusak hati. Sehingga ia akan perintahkan seluruh anggota tubuh untuk pengamalan iman.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Pahamilah bahwa ketika iman adalah bab yang berhubungan dengan hati, tahulah kita akan pentingnya iman itu. Karena pentingnya posisi hati bagi seorang insan; “Siapa engkau wahai manusia?” Jawabannya adalah bagaimana hatimu. “Siapa dirimu wahai insan?” Jawabannya adalah bagaimana hatimu. Kalau iman menghiasi hati, maka engkaulah orang yang beriman. Namun kalau hati itu dihiasi dengan keraguan, maka engkau adalah orang yang ragu di dalam agamamu. Wajar jika engkau maju-mundur dalam beragama dan dalam patuh dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Lihatlah orang-orang yang tidak memiliki iman. Tidak ada di dalam hidupnya larangan dan sesuatu yang menahannya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Yang penting adalah syahwat karena dia tidak memiliki iman.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan;
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ