daerah

Mengenal Lebih Dekat Ritual Adat Keboan Aliyan Banyuwangi Yang Diselenggarakan Tiap bulan Suro

Minggu, 31 Juli 2022 | 20:38 WIB
Mengenal lebih dekat adat keboan Aliyan (Konik)

Banyuwangi, STORYJATIM.COM - Matahari belum menunjukan sinarnya, di pagi itu suasana Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur sudah mulai sibuk dengan segala persiapan menyambut pesta panen, Yakni Acara ritual adat Keboan.

Terlihat tak satupun warga yang berdiam diri dirumah sambil menikmati secangkir kopi ataupun teh hangat, semua masyarakat sibuk dengan tugasnya masing-masing, dari Salah satu Desa yang ada di kecamatan Rogojampi itu, ibu ibu sibuk mempersiapkan hidangan untuk selamatan, sedangkan anak anak remaja sibuk mempersiapkan atribut untuk ider bumi nanti, bapak bapak sibuk dengan sesajen untuk diletakan di sanggah (suatu tempat yang diyakini untuk meletakan sesajen).

Baca Juga: Ritual Adat Keboan Aliyan Banyuwangi Salah Satu Bentuk Ucap Syukur Kepada Tuhan Atas Panen Yang Melimpah
Meski demikian, ketika saya datang, mereka menyambutnya dengan suka cita, warga pun berbahagia mengetahui saya datang dari lain daerah untuk menyaksikan ritual di Desanya. Seorang ibu yang sedang menyiapkannya sajian selamatan mengajak saya untuk menyantap masakan pecel pithik (pecel ayam) yang sudah di buatnya itu.

Keakrapanpun terjadi, sembari berbincang-bincang yang semakin hangat itu saya mengetahui banyak hal tentang ritual adat itu, ritual adat yang konon di gelar sejak kerajaan Majapahit itu diketahui ternyata upacara pesta panen, dari asal katanya Keboan diambil dari kata Kebo yang artinya kerbau, akan tetapi ritual ini sama sekali tidak menggunakan kerbau, melainkan peragaanya yang digunakan adalah manusia (laki laki), ritual ini diselenggarakan setiap bulan muharram atau Suro.

Sejak abad ke-18 ritual Keboan Aliyan sudah lahir. Selain sekelompok laki laki memperagakan kerbau, seorang gadis cantik pilihan juga diperagakan menjadi Dewi Sri, kerbau dan Dewi Sri dianggap sebagai simbol yang banyak membantu dalam pertanian. Atas dasar rasa syukur itu masyarakat Desa Aliyan. Yang dalam hal ini dipresentasikan Keboan dan Dewi Sri.

Adapun Bagian inti dalam ritual adat Keboan Aliyan ini adalah selamatan dimakam leluhur dan ider bumi, untuk selamatan di makam leluhur sendiri dilaksanakan sehari sebelum kegiatan ider bumi. Ider bumi ialah ritual mengelilingi desa yang dilakukan oleh Keboan, Dewi Sri, pawang, dan juga masyarakat setempat. Uniknya pada saat ider bumi keboan mengalami kerasukan hingga layaknya kerbau, masyarakat percaya bahwa saat ider bumi roh leluhur ikut serta dalam pesta panen ini.

Baca Juga: Bupati Banyuwangi Hadiri Ritual Adat Keboan Aliyan, Ipuk : Gotong Royong Bentuk Penyelesaian Masalah Di Desa

Pawai ider bumi berjalan mengelilingi desa empat penjuru mata angin, saat itu keboan akan berkubang jika bertemu dengan goyangan (kubangan air), kemudian mereka ke arah persawahan, disinilah Keboan tersebut mulai prilakunya seperti kerbau, membajak sawah, berkubang (goyang ucapan suku Osing) , dilanjutkan dengan penanaman benih padi atau disebut ngurit, saat benih ditebar, masyarakat berebut untuk mendapatkannya, karena masyarakat meyakini jika yang mendapatkan dan ditebar kesawahnya akan membuat kesuburan.

Ritual adat Keboan ini dilaksanakan secara bersamaan di dua wilayah yang berada di desa Aliyan, wilayah Kulon sebutannya wilayah desa bagian barat, yang meliputi dusun Kedawung, Damrejo dan Sukodono. Sedangkan wilayah wetan bagian desa sebelah timur meliputi dusun Timurejo, Krajan, Bolot, dan Cempokosari. Ritual Keboan ini disepakati karena melihat luasnya Desa Aliyan maka dilaksanakan di satu dusun setiap wilayah, disebelah wilayah wetan disepakati untuk dilaksanakan di Dusun Timurejo, untuk wilayah barat dilaksanakan di Dusun Sukodono, meskipun demikian gotong royong kebersamaan tetap terjaga disetiap wilayah.

Keboan yang diiringi semua warga tersebut berkunjung ke balai Desa Aliyan secara bergantian antara wilayah Timur dan wilayah Barat, ketika keboan datang, Kepala Desa Aliyan berteriak membangkitkan semangat warganya dengan teriakan khas petani Aliyan. 

"Kaooook kaaaoookk kaaoook........ " Teriak Anton Sujarwo Kades Aliyan. 

Sontak warga yang ikut dalam ritual tersebut memberikan balasan. 

"Woooooooeeeeyyyy...... " Sahut warga yang mengikuti ritual Keboan dengan bersemangat membalas teriakan khas tersebut. 

Ada perbedaan dalam ritual Keboan di dua wilayah ini, yakni perbedaan pada leluhurnya dan tempat yang dianggap sakral bagi masing masing wilayah, Tokoh leluhur yang dipercayai oleh wilayah Kulon yakni Mbah Buyut Wadung, sedangkan Tokoh leluhur di Sebelah wetan adalah Mbah Buyut Wongso Kenongo, kedua tokoh tersebut adalah cikal bakal dari wilayah Dusun masing masing, masyarakat juga meyakini jika ritual adat Keboan kedua wilayah tersebut di satukan maka akan menjadi perselisihan, guna menghindari hal tersebut maka diadakan di wilayah masing masing namun dalam satu waktu.

Ritual ini awalnya hanya dilaksanakan warga setempat, karena perkembangan zaman kini menjadi sajian yang bisa ditonton oleh masyarakat umum sebagai atraksi wisata.

Tags

Terkini