daerah

Paglak Menyingsing, Senja Berkisah: Menghidupkan Kembali Nafas Tradisi Lewat Sosok Tohan

Minggu, 1 Juni 2025 | 11:23 WIB
Paglak Menyingsing, Senja Berkisah: Menghidupkan Kembali Nafas Tradisi Lewat Sosok Tohan

Banyuwangi Storyjatim.com — "Paglak Menyingsing, Senja Berkisah" bukan sekadar tajuk puitis. Ia adalah seruan halus yang menggema dari tepian sawah, dari suara bambu yang bersahutan, dari jiwa seorang maestro yang telah melewati senjanya dengan kesetiaan penuh pada kesenian. Ia adalah Tohan, penghayat Angklung Paglak Banyuwangi, sosok yang menjadi pusat dari perjalanan panjang program dokumentasi budaya yang mencapai puncaknya malam ini.

Malam ini bukan malam biasa. Ia adalah malam puncak, malam penghormatan, malam penyerahan tongkat estafet dari generasi pelestari menuju generasi pewaris. Ini adalah penutup sekaligus permulaan, dari serangkaian program yang dirancang bukan hanya untuk mengenang, tapi juga menghidupkan kembali roh Angklung Paglak.

Dari Bunyi ke Ide: Menyigi Sosok Tohan

Program ini dimulai sejak 8 Februari 2025, melalui sebuah Sarasehan Budaya bertajuk “Dari Bunyi ke Ide: Membaca Tohan Maestro Angklung Paglak Banyuwangi” yang digelar di Aula Warung Seblang. Forum ini menghadirkan akademisi, budayawan, pejabat daerah, hingga seniman lintas generasi.

Dalam forum ini, Tohan tak hanya dipuji—ia dibedah, ditelusuri, dan dibicarakan. Kita mendengar tantangan atas pelestarian tradisi, harapan untuk keberlanjutan, dan tekad untuk menjaga warisan budaya yang telah lama berakar di masyarakat agraris Banyuwangi.

Baca Juga: CSR PT BSI Dorong Kemajuan Pesanggaran, Bakesbangpol Apresiasi Iklim Investasi di Banyuwangi

Film, Warisan, dan Nyala Baru

Pada April 2025, program berlanjut ke ranah sinema dengan pembuatan film dokumenter berjudul “Tohan: Pelaku Hidup Angklung Paglak.” Film ini menjadi medium reflektif yang menangkap sisi kemanusiaan dan keheningan batin seorang maestro, di balik denting bambu yang selama ini terdengar meriah di ladang-ladang dan upacara desa.

Kemudian, pada 11–13 Mei 2025, diselenggarakan Residensi Intensif di kediaman maestro Tohan. Sebanyak 25 anak muda Banyuwangi berproses langsung dalam ruang hidup sang maestro. Di sini, ilmu tidak diajarkan lewat papan tulis, tetapi diturunkan lewat kebersamaan, perasaan, dan gerakan tubuh. Mereka belajar bukan hanya memainkan alat, tapi mendengar dengan jiwa, menyerap dengan hati.

Tohan: Bukan Sekadar Pemain, Tapi Penjaga Napas

Bagi mereka yang mengenalnya, Tohan bukan hanya seorang pemain angklung. Ia adalah penghayat. Ia bukan sekadar menghidupkan suara, tapi menjaga napas kesenian yang hampir dilupakan. Melalui tangannya, Angklung Paglak tak hanya berbunyi, tetapi berbicara: tentang tanah yang ditanami, tentang peluh petani, tentang musim, gotong royong, dan kesederhanaan hidup yang kaya makna.

Di tengah perubahan zaman, program Pendokumentasian Maestro, yang difasilitasi oleh Dana Indonesiana dan dijalankan oleh Sanggar Jiwa Etnik Blambangan, menjadi tonggak penting. Ia menjadi jembatan antara generasi lama dan yang baru—antara warisan dan kemungkinan masa depan.

Tradisi Tak Mati, Ia Bertumbuh

Salah satu yang membawa nyala baru adalah Bagus Agustin, komposer muda asal Pasinan. Ia mencoba menafsir ulang kemungkinan Angklung Paglak di luar pakem lama, dengan tetap berakar kuat pada identitasnya. Ini bukan sekadar inovasi. Ini adalah bukti bahwa tradisi bisa lentur, bertumbuh, dan tetap relevan.

Lewat program ini, Tohan tidak hanya didokumentasikan sebagai pribadi. Ia dikenang sebagai semangat kolektif, sebagai ketekunan yang tak pernah surut, sebagai suara hati yang senantiasa menyatu dengan tanah dan masyarakatnya.

Halaman:

Tags

Terkini