Banyuwangi, Storyjatim.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banyuwangi menutup rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2026 dengan menggelar napak tilas di Wisma Raga Satria Laut, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan nonton bareng (nobar) film Battle of Surabaya serta diskusi kebangsaan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan tabur bunga di kompleks Wisma Raga Satria Laut. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki nilai sejarah sebagai salah satu tempat yang pernah dikunjungi Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, saat meresmikan Monumen Perjuangan ALRI 0032 pada tahun 1951.
Baca Juga: Aris Budiman Resmi Jabat Kepala OJK Jember, Siap Perkuat Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah
Ketua DPC GMNI Banyuwangi, Vingky Dwi Putra, mengatakan napak tilas tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus upaya menghidupkan kembali semangat perjuangan Bung Karno di kalangan generasi muda.
"Napak tilas ini menjadi cara kami mengikuti jejak Bung Karno dalam menghormati para pahlawan. Sejarah tidak cukup diperingati, tetapi harus dipahami agar semangat perjuangannya tetap hidup di tengah generasi muda," ujar Vingky.
Menurutnya, Banyuwangi memiliki banyak situs bersejarah yang belum banyak dikenal masyarakat, khususnya kalangan muda. Karena itu, GMNI berkomitmen menjadikan ruang-ruang sejarah sebagai sarana pendidikan kebangsaan yang mampu memperkuat rasa cinta tanah air.
Setelah napak tilas, para peserta mengikuti pemutaran film Battle of Surabaya, film animasi yang mengisahkan perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang membahas makna nasionalisme serta relevansi nilai perjuangan dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini.
Vingky menjelaskan, pemilihan film sebagai media pembelajaran dilakukan karena dinilai lebih dekat dengan kehidupan generasi muda dan mampu menyampaikan pesan sejarah secara menarik.
"Perjuangan tidak selalu dimulai ketika seseorang menjadi tokoh besar.
Film ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga bangsa. Yang terpenting adalah keberanian mengambil sikap dan membangun perjuangan secara terorganisir," katanya.
Ia menambahkan, diskusi setelah pemutaran film menjadi bagian penting agar peserta tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai perjuangan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami berharap Bulan Bung Karno tidak hanya menjadi agenda seremonial setiap tahun, tetapi benar-benar menjadi momentum memperkuat karakter kebangsaan, menumbuhkan nasionalisme, serta mengajak generasi muda untuk menjaga dan merawat sejarah sebagai bekal menghadapi masa depan," pungkas Vingky.
Baca Juga: Ketua Bawaslu Banyuwangi Apresiasi Sidikwangi Jadi Sistem Digitalisasi Arsip Keuangan Administrasi
Melalui kegiatan tersebut, GMNI Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus menanamkan nilai-nilai nasionalisme, memperkuat pendidikan sejarah, dan mengajak generasi muda menjaga semangat perjuangan Bung Karno sebagai fondasi membangun Indonesia yang lebih maju.